Indeks Dolar Melemah, Seiring Optimisme Konflik AS-Iran Segera Mereda

Indeks Dolar AS (DXY) terlihat masih berada dalam tekanan dan mendekati level terendah dalam beberapa minggu terakhir, berada di kisaran 97. DXY bahkan tercatat berada di sekitar level 97,82 saat berita ini ditulis Pukul 13.50 WIB pada hari Kamis, menandakan pelemahan yang cukup signifikan dibandingkan fase sebelumnya saat konflik geopolitik memanas.

Faktor utama pelemahan dolar saat ini adalah perubahan besar sentimen global menuju risk-on, seiring meningkatnya optimisme bahwa konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, akan segera mereda. Harapan adanya kesepakatan damai membuat investor keluar dari aset safe haven seperti dolar dan beralih ke aset berisiko seperti saham dan mata uang komoditas.

Selain itu, dolar juga kehilangan sebagian besar “war premium” yang sebelumnya mendorong penguatan tajam. Ketika konflik memuncak, dolar sempat menjadi pilihan utama investor global. Namun kini, dengan adanya sinyal de-eskalasi, premium tersebut mulai menghilang, sehingga menekan nilai dolar secara bertahap.

Dari sisi makroekonomi, pelemahan dolar juga diperkuat oleh data inflasi AS yang mulai menunjukkan penurunan tekanan, khususnya dari sisi produsen (PPI). Inflasi yang lebih rendah meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mengambil kebijakan yang lebih dovish ke depan. Hal ini berdampak langsung pada penurunan yield obligasi AS, yang pada akhirnya mengurangi daya tarik dolar sebagai aset berbasis imbal hasil.

Di sisi lain, penguatan mata uang global lain seperti euro, yuan, dan dolar Australia juga menjadi faktor tambahan yang menekan DXY. Beberapa mata uang bahkan mencapai level tertinggi dalam beberapa minggu hingga bulan terakhir, menunjukkan adanya rotasi global dari USD ke mata uang lain seiring membaiknya outlook ekonomi global dan meredanya ketegangan geopolitik.

Namun demikian, pelemahan dolar saat ini masih bersifat terkendali (tidak agresif). Permintaan terhadap aset AS, termasuk obligasi dan pasar keuangan, masih relatif kuat, sehingga membatasi penurunan lebih dalam. Selain itu, jika terjadi eskalasi kembali dalam konflik geopolitik atau data ekonomi AS kembali kuat, dolar berpotensi mengalami rebound dengan cepat.


sumber : reuters