Indeks Dolar AS Tertekan di Tengah Pelemahan Ekspektasi The Fed

Indeks Dolar AS (DXY) bergerak melemah pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026, setelah pelaku pasar kembali melakukan aksi jual dolar menyusul berkurangnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. DXY diperdagangkan turun 0,07% ke level 100,71 saat berita ini ditulis Pukul 14.00 WIB. Meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih mendorong permintaan aset safe haven, investor mulai lebih fokus pada prospek kebijakan moneter AS yang dinilai semakin dovish dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Pelemahan ekspektasi suku bunga tersebut mengurangi daya tarik dolar terhadap mata uang utama lainnya.

Faktor lain yang membebani DXY adalah mulai melandainya tekanan inflasi Amerika Serikat. Data inflasi yang lebih lunak dalam beberapa rilis terakhir membuat pasar memperkirakan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tanpa perlu melakukan pengetatan tambahan. Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) kehilangan momentum kenaikannya sehingga arus dana ke aset berbasis dolar mulai berkurang. Penyesuaian ekspektasi kebijakan moneter ini menjadi katalis utama pelemahan indeks dolar pada sesi perdagangan hari ini.

Selain itu, penguatan sejumlah mata uang utama seperti euro turut memberikan tekanan terhadap DXY. Karena euro memiliki bobot terbesar dalam perhitungan Indeks Dolar AS, setiap apresiasi mata uang tunggal Eropa tersebut cenderung menekan nilai DXY. Ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) masih mempertahankan sikap yang relatif ketat terhadap inflasi membuat investor meningkatkan eksposur pada euro, sehingga mempersempit keunggulan imbal hasil yang sebelumnya dinikmati dolar AS.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik memang sempat menopang permintaan terhadap dolar sebagai aset lindung nilai. Namun pada perdagangan hari ini, sentimen tersebut tidak cukup kuat untuk mengimbangi perubahan ekspektasi kebijakan The Fed. Investor menilai bahwa arah suku bunga tetap menjadi faktor dominan dalam menentukan pergerakan DXY. Oleh karena itu, meskipun risiko konflik di Timur Tengah masih tinggi, tekanan jual terhadap dolar tetap terjadi karena pasar lebih memperhatikan prospek kebijakan moneter dibandingkan faktor safe haven semata.

Menurut Fawad Razaqzada, Senior Market Analyst di City Index & FOREX.com, pergerakan dolar saat ini sangat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi suku bunga dan dinamika imbal hasil obligasi AS. Ia menilai bahwa selama data ekonomi AS terus menunjukkan perlambatan inflasi dan pasar tenaga kerja tidak memberikan kejutan positif yang signifikan, ruang penguatan dolar akan semakin terbatas. Investor kini akan mencermati data ekonomi berikutnya serta pernyataan pejabat Federal Reserve sebagai penentu arah DXY dalam jangka pendek.


sumber : reuters