Indeks Dolar AS Terlihat Stabil, Setelah Tertekan Beberapa Hari

Indeks Dolar AS (DXY) terlihat stabil di sekitar 98, setelah mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Secara data, DXY berada di 98,06 saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB pada hari Jumat dan tercatat menuju penurunan mingguan berturut-turut, menunjukkan bahwa tren pelemahan dolar masih cukup dominan dalam jangka pendek.

Faktor utama yang menekan dolar akhir-akhir ini adalah menurunnya permintaan safe haven, seiring meningkatnya optimisme terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harapan adanya kelanjutan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, serta adanya gencatan senjata sementara di kawasan konflik, membuat investor mulai keluar dari aset aman seperti USD dan beralih ke aset berisiko.

Selain itu, pasar global saat ini sedang berada dalam fase risk-on yang cukup kuat, ditandai dengan kenaikan signifikan pada indeks saham global dan penguatan mata uang selain USD. Aliran dana global mulai berpindah ke aset dengan return lebih tinggi, seperti saham teknologi dan mata uang komoditas. Hal ini secara langsung menekan posisi dolar dalam keranjang mata uang global.

Dari sisi makroekonomi, tekanan terhadap dolar juga datang dari menurunnya ekspektasi inflasi dan suku bunga AS. Penurunan harga minyak dalam beberapa hari terakhir membantu meredakan kekhawatiran inflasi, sehingga pasar mulai memperkirakan bahwa Federal Reserve tidak akan terlalu agresif dalam mempertahankan kebijakan moneter ketat. Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai membuka peluang pemangkasan suku bunga dalam jangka menengah.

Namun demikian, pelemahan dolar saat ini tidak bersifat ekstrem. Yield obligasi AS masih relatif stabil, dan ketidakpastian global belum sepenuhnya hilang. Beberapa analis juga menilai bahwa pasar mungkin terlalu cepat mengasumsikan de-eskalasi konflik, sehingga terdapat risiko reversal mendadak jika negosiasi gagal atau konflik kembali memanas.

Selain itu, pergerakan DXY juga menunjukkan bahwa dolar telah kehilangan sebagian besar “war premium” yang sebelumnya mendorong penguatan tajam saat konflik memuncak. Kini, dengan sentimen yang lebih stabil, pasar kembali ke kondisi yang lebih normal, di mana pergerakan dolar lebih dipengaruhi oleh data ekonomi dan kebijakan moneter dibanding faktor geopolitik semata.


sumber : reuters