Indeks Dolar AS Terkoreksi di Tengah Redupnya Ekspektasi Inflasi Global

Indeks Dolar AS (DXY) terpantau bergerak melemah pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026, pukul 13.10 WIB dengan tertahan di kisaran level 98,95. Pelemahan sebesar 0,29% dari hari sebelumnya ini mencerminkan adanya aksi ambil untung (profit taking) dari para pelaku pasar setelah DXY sempat menyentuh level tertinggi dalam enam minggu terakhir pada pekan lalu. Koreksi ini didorong oleh kombinasi meredanya tensi geopolitik global, perubahan struktural internal bank sentral AS, serta penyesuaian antisipasi data ekonomi makro yang akan dirilis dalam pekan ini.

Faktor utama yang menekan performa sang Greenback siang ini adalah meredanya kekhawatiran inflasi global seiring dengan munculnya optimisme baru terkait potensi kesepakatan geopolitik antara AS dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Redaman tensi di jalur perdagangan maritim vital tersebut langsung memicu penurunan harga minyak mentah dunia jenis Brent dari puncaknya. Karena harga minyak yang lebih rendah secara langsung menurunkan ekspektasi tekanan inflasi impor (imported inflation) di AS, kebutuhan pasar untuk mengoleksi Dolar AS sebagai aset aman (safe-haven) pun otomatis ikut menyusut.

Selain faktor komoditas, internal Federal Reserve (The Fed) saat ini tengah berada dalam fase transisi kepemimpinan yang memicu ketidakpastian struktural bagi mata uang AS. Menyusul berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Fed pada 15 Mei 2026, tongkat estafet kepemimpinan kini beralih kepada Kevin Warsh menjelang pertemuan FOMC krusial pada pertengahan Juni mendatang. Perpecahan suara (fractured FOMC) yang sempat terjadi dalam pemungutan suara kebijakan terakhir memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa dominasi kebijakan ketat (hawkish) di tubuh sentral mulai goyah, sehingga membatasi ruang bagi Dolar untuk menguat lebih jauh.

Dari sisi kalender ekonomi, pergerakan melemah DXY pada siang hari ini juga disebabkan oleh sikap wait-and-see para investor global yang cenderung menahan posisi menjelang rilis data inflasi penting AS, yaitu Core Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index. Data PCE yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed ini sangat dinantikan untuk mengukur apakah bank sentral benar-benar perlu mengerek suku bunga acuan ke depan atau justru mempertahankan sikap menahan. Kehati-hatian pasar ini kian dipertegas oleh volume perdagangan yang relatif tipis di sesi Asia hingga Eropa hari ini mengingat pasar keuangan AS tengah ditutup memperingati hari libur nasional (Memorial Day).

Secara jangka panjang, pelemahan harian ini sejalan dengan proyeksi konsensus institusi keuangan global yang memperkirakan bahwa reli Dolar AS di kuartal kedua 2026 mulai menemui batas atasnya (ceiling framework). Seiring memudarnya stimulus dari kebijakan pemotongan pajak (tax rebates) era Trump di masyarakat serta mulai pulihnya aliran diversifikasi aset global ke mata uang non-USD, keunggulan imbal hasil (yield advantage) Dolar diprediksi akan terus menyempit. Jika data ekonomi AS yang keluar dalam beberapa waktu ke depan mengonfirmasi perlambatan konsumsi, tekanan turun pada Indeks DXY menuju area support psikologis baru dipastikan akan semakin terbuka lebar.


sumber : reuters