Indeks Dolar AS Terkoreksi, Aksi Ambil Untung di Tengah Meredanya Ekspektasi Hawkish The Fed
Indeks Dolar AS (DXY) melemah pada Jumat, 26 Juni 2026, setelah sempat menguat tajam dalam beberapa hari sebelumnya. DXY diperdagangkan turun 0,02% ke level 101,17 saat berita ini ditulis Pukul 13.15 WIB. Pelemahan ini lebih banyak dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) dari para pelaku pasar yang memilih mengamankan keuntungan setelah DXY mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Meskipun fundamental ekonomi Amerika Serikat masih relatif solid, tekanan jual muncul karena investor mulai menilai bahwa penguatan dolar dalam beberapa hari terakhir sudah mencerminkan sebagian besar sentimen positif yang ada.
Faktor lain yang turut membebani DXY adalah perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Data inflasi Core PCE yang dirilis sesuai dengan perkiraan pasar tidak memberikan kejutan baru yang cukup kuat untuk meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga lebih lanjut. Sejumlah pelaku pasar mulai memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya sambil mengevaluasi perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi secara lebih menyeluruh. Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang sebelumnya naik mulai kehilangan momentum sehingga mengurangi daya tarik dolar AS.
Di sisi lain, meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko juga ikut mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Stabilnya sentimen di pasar global serta berkurangnya kekhawatiran terhadap risiko geopolitik mendorong arus dana kembali mengalir ke pasar saham dan mata uang berimbal hasil lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS sedikit berkurang meskipun prospek ekonomi Amerika Serikat masih lebih baik dibandingkan beberapa negara maju lainnya.
Meski DXY mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, tren jangka menengah dolar masih tergolong kuat. Fundamental ekonomi AS tetap didukung oleh pasar tenaga kerja yang solid, inflasi yang masih berada di atas target Federal Reserve, serta ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan pada level tinggi lebih lama. Oleh karena itu, pelemahan yang terjadi saat ini lebih dipandang sebagai koreksi teknikal daripada perubahan tren utama. Selama data ekonomi Amerika Serikat tetap menunjukkan ketahanan, potensi penguatan dolar masih terbuka dalam beberapa pekan mendatang.
Menurut Tony Sycamore, Market Analyst Senior dari IG, pergerakan dolar saat ini mencerminkan fase konsolidasi setelah reli yang cukup agresif. Ia menilai bahwa investor sedang menyeimbangkan kembali posisi mereka sambil menunggu data ekonomi berikutnya untuk memperoleh petunjuk yang lebih jelas mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Sycamore menambahkan bahwa selama inflasi belum kembali ke target 2%, dolar AS diperkirakan masih akan memperoleh dukungan fundamental meskipun dalam jangka pendek rentan mengalami koreksi akibat aksi ambil untung.
sumber : reuters
