Indeks Dolar AS Naik, Didorong Safe Haven dan Prospek Hawkish The Fed
Indeks Dolar AS (DXY) menguat pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026, diperdagangkan di 100,87, naik sekitar 0,1% dibandingkan hari sebelumnya saat berita ini ditulis Pukul 13.45 WIB. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, sekaligus meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.
Faktor utama yang menopang kenaikan DXY adalah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk. Laporan terbaru menyebutkan serangan militer kembali terjadi dan Iran mengklaim telah menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, sehingga investor berbondong-bondong membeli dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mulai mengantisipasi bahwa inflasi Amerika Serikat berpotensi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi. Ekspektasi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan meningkatkan probabilitas bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga setidaknya dua kali hingga akhir tahun. Prospek suku bunga yang lebih tinggi membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik dibandingkan mata uang utama lainnya.
Penguatan dolar juga diperkuat oleh posisi spekulatif pelaku pasar yang semakin bullish terhadap mata uang AS. Data terbaru menunjukkan posisi net long dolar mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade, mencerminkan keyakinan investor bahwa ekonomi AS masih relatif lebih tangguh dibandingkan negara-negara maju lainnya. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan bagi pergerakan DXY dalam jangka pendek.
Sementara itu, perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi AS serta kesaksian Ketua Federal Reserve dalam pekan ini. Apabila data inflasi kembali menunjukkan tekanan harga yang tinggi, maka peluang kebijakan moneter yang lebih hawkish akan semakin besar dan berpotensi mendorong DXY melanjutkan penguatannya. Sebaliknya, data yang lebih lemah dari ekspektasi dapat memicu aksi ambil untung terhadap dolar AS.
Menurut Matt Simpson, Senior Market Analyst di City Index, penguatan dolar saat ini didorong oleh kombinasi meningkatnya permintaan aset safe haven dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang tetap ketat. Ia menilai lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik kembali membangkitkan kekhawatiran inflasi, sehingga pasar mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS bertahan lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Selama sentimen tersebut bertahan, dolar AS diperkirakan masih memiliki peluang untuk mempertahankan tren penguatannya.
sumber : reuters
