Indeks Dolar AS Menguat, Seiring Meningkatnya Permintaan Safe Haven

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai Dolar AS (USD) terhadap enam mata uang utama, lanjutkan menguat, setelah mencatatkan kenaikan hampir 1% di hari sebelumnya, diperdagangkan di sekitar 98,67 saat berita ini ditulis Pukul 13.25 WIB pada hari Selasa. Greenback menguat seiring meningkatnya permintaan safe-haven akibat perang di Timur Tengah.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa “gelombang besar” serangan terhadap Iran dalam konflik yang sedang berlangsung masih akan datang. Marco Rubio menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan “peningkatan besar” dalam serangan di Iran dalam 24 jam ke depan. Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang ribuan target di dalam Iran, melanjutkan kampanye bersama mereka setelah membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebuah laporan Reuters mengutip Ebrahim Jabari, penasihat senior untuk panglima angkatan bersenjata Korps Pengawal Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), mengatakan: “Selat Hormuz ditutup. Jika ada yang mencoba melintas, para pahlawan Pengawal Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal tersebut.”

Di sisi data, PMI Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) turun menjadi 52,4 pada bulan Februari dari 52,6 pada bulan Januari, tetapi masih mengalahkan ekspektasi 51,7. Indeks Ketenagakerjaan Manufaktur naik menjadi 48,8 dari 48,1, meskipun tetap berada di wilayah kontraksi.

Dolar AS mendapatkan dukungan tambahan dari ekspektasi bahwa harga energi yang lebih tinggi terkait dengan konflik akan memicu inflasi dan menurunkan kemungkinan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve (The Fed). Pada saat yang sama, biaya energi yang tinggi dan risiko inflasi menekan mata uang negara-negara pengimpor energi besar, terutama di Eropa dan Jepang.


sumber : fxstreet