Indeks Dolar AS Menguat Dekati Level Tertinggi Enam Pekan, Jelang Risalah Rapat The Fed

Pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) terpantau kokoh mendekati level tertinggi dalam enam pekan terakhir, dengan perdagangan bertahan kuat di 99,3, naik 0,05% saat berita ini ditulis Pukul 14.25 WIB pada hari Rabu. Penguatan yang terjadi ini mencerminkan tingginya minat investor global terhadap aset safe-haven (aset aman). Sentimen pasar saat ini didominasi oleh kekhawatiran mendalam atas dinamika makroekonomi global yang kembali memanas akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Pemicu utama dari apresiasi Greenback hari ini adalah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus membayangi jalur pelayaran strategis global. Blokade parsial yang berkepanjangan di Selat Hormuz telah memicu gangguan rantai pasok energi yang masif, mempertahankan harga minyak mentah Brent bertengger di level tinggi sekitar $110,8 per barel. Lonjakan harga komoditas energi ini secara otomatis mentransmisikan tekanan inflasi baru ke seluruh dunia, merusak harapan pasar yang awalnya mengira inflasi global akan terus melandai pada pertengahan tahun ini.

Dampak langsung dari kekhawatiran stagflasi (kondisi ekonomi stagnan yang disertai inflasi tinggi) ini adalah pergeseran ekspektasi pasar yang sangat drastis terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Jika pada awal tahun para pelaku pasar optimis akan adanya beberapa kali pemotongan suku bunga di tahun ini, data CME FedWatch per hari ini justru berbalik arah. Pasar kini memperhitungkan probabilitas lebih dari 50% bahwa langkah moneter The Fed selanjutnya adalah menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang demi menjinakkan inflasi yang kembali menyala.

Dorongan tambahan bagi keperkasaan DXY juga datang dari pasar obligasi, di mana imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury) jangka panjang melonjak tajam ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir akibat aksi jual global. Tingginya imbal hasil obligasi AS ini bertindak seperti magnet modal bagi para investor asing, mempertebal aliran dana masuk (capital inflow) ke dalam mata uang Dolar AS. Sementara ekonomi AS dinilai masih cukup tangguh menahan beban suku bunga tinggi, ekonomi kawasan Eropa dan Asia justru mulai memperlihatkan retakan struktural akibat tekanan biaya energi.

Faktor krusial terakhir yang membuat para pedagang menahan kepemilikan Dolar mereka siang ini adalah sikap hati-hati menjelang rilis Notulen Rapat FOMC (FOMC Minutes) yang dijadwalkan malam nanti. Pasar mengantisipasi bahwa dokumen tersebut akan bernada hawkish (cenderung mendukung pengetatan moneter), sejalan dengan pernyataan sejumlah pejabat regional The Fed baru-baru ini yang memperingatkan ketatnya tekanan harga domestik. Kombinasi dari permintaan safe-haven, lonjakan yield obligasi, dan spekulasi kenaikan suku bunga lanjutan inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi DXY untuk terus menekan mata uang utama lainnya hari ini.


sumber : reuters