Indeks Dolar AS Melemah di Tengah Penguatan Mata Uang Global

Indeks Dolar AS (DXY) melemah pada Selasa, 9 Juni 2026 setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir dua bulan. DXY diperdagangkan turun 0,17% ke level 99,82 saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB. Pelemahan ini terutama dipicu oleh berkurangnya permintaan aset safe haven setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Sentimen pasar menjadi lebih positif setelah muncul harapan bahwa konflik yang melibatkan Iran dan Israel tidak akan berkembang menjadi eskalasi yang lebih luas, sehingga investor mulai mengurangi kepemilikan dolar AS dan kembali masuk ke aset berisiko.

Selain faktor geopolitik, pelemahan DXY juga dipengaruhi oleh penguatan mata uang utama lainnya, terutama euro. Pasar saat ini mulai mengantisipasi sikap yang lebih hawkish dari bank sentral Eropa, di mana pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga lanjutan dari Bank Sentral Eropa. Kenaikan ekspektasi suku bunga di kawasan Eropa membuat euro menguat terhadap dolar AS, sehingga memberikan tekanan terhadap pergerakan DXY mengingat euro memiliki bobot terbesar dalam komposisi indeks tersebut.

Di sisi lain, investor juga memilih untuk melakukan aksi profit taking setelah reli kuat dolar AS pada akhir pekan lalu. Sebelumnya, DXY memperoleh dukungan signifikan dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan penambahan lapangan kerja jauh di atas ekspektasi pasar. Data tersebut sempat meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan apabila inflasi kembali meningkat.

Meski demikian, fokus pasar saat ini mulai beralih kepada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Para pelaku pasar cenderung mengurangi posisi beli dolar sambil menunggu kepastian mengenai arah inflasi AS. Apabila inflasi menunjukkan perlambatan, maka ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan dari Federal Reserve dapat berkurang dan berpotensi memperpanjang tekanan terhadap DXY. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat kembali memberikan dukungan bagi dolar AS.

Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS masih berada di level yang relatif tinggi, yang sebenarnya menjadi faktor pendukung dolar. Namun pada perdagangan sesi Asia hari ini, sentimen risk-on lebih dominan dibandingkan faktor yield, sehingga aliran dana bergerak menuju mata uang dan aset berisiko lainnya. Kondisi tersebut membuat DXY mengalami koreksi teknikal setelah kenaikan tajam yang terjadi selama beberapa sesi sebelumnya.

Menurut analis senior pasar dari ING, Francesco Pesole, pergerakan dolar saat ini sangat bergantung pada kombinasi data inflasi AS dan perkembangan risiko geopolitik global. Ia menilai bahwa reli dolar yang terjadi pasca-data tenaga kerja kuat masih memiliki dasar fundamental yang kokoh, namun pasar memerlukan katalis baru untuk mendorong penguatan lanjutan. Jika inflasi AS tidak memberikan kejutan positif, dolar berpotensi mengalami konsolidasi atau koreksi jangka pendek setelah reli yang cukup agresif dalam beberapa hari terakhir.

Secara keseluruhan, Pelemahan DXY hari ini terutama dipengaruhi oleh:

* Meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah yang mengurangi permintaan safe haven dolar AS.
* Penguatan euro dan beberapa mata uang mayor lainnya.
* Aksi profit taking setelah reli dolar pasca data Non-Farm Payrolls yang kuat.
* Sikap wait and see investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat.
* Peralihan sentimen pasar menuju aset berisiko (risk-on).

Prospek jangka pendek DXY masih akan sangat ditentukan oleh data inflasi AS dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve dalam beberapa pekan mendatang.


sumber : reuters