Indeks Dolar AS Melemah di Tengah Berkurangnya Permintaan Safe Haven
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak melemah pada perdagangan 23 Juli 2026, diperdagangkan di 100,79, turun 0,13% saat berita ini ditulis Pukul 13.25 WIB, setelah sempat mengalami tekanan dari aksi ambil untung investor. Pelemahan ini terjadi meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih tinggi. Investor mulai mengurangi kepemilikan dolar karena sebagian besar sentimen risiko telah diperhitungkan oleh pasar, sementara mata uang utama seperti euro dan pound sterling memperoleh dukungan menjelang sejumlah keputusan kebijakan moneter di Eropa.
Faktor lain yang menekan DXY adalah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve tidak akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Data inflasi Amerika Serikat yang dirilis dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan tekanan harga mulai mereda, sehingga pasar menilai ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga semakin besar. Berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut membuat imbal hasil obligasi AS kehilangan sebagian daya tariknya sehingga permintaan terhadap dolar ikut melemah.
Di sisi lain, mata uang euro memperoleh dukungan menjelang pertemuan European Central Bank (ECB). Pelaku pasar memilih mengurangi posisi beli dolar sambil menunggu sinyal kebijakan dari bank sentral Eropa. Pergeseran arus dana menuju euro dan beberapa mata uang utama lainnya menyebabkan bobot terbesar dalam perhitungan DXY memberikan tekanan tambahan terhadap indeks dolar.
Meski demikian, pelemahan DXY masih tergolong terbatas karena konflik antara Amerika Serikat dan Iran tetap menjaga permintaan aset safe haven. Lonjakan harga minyak mentah yang dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi turut meningkatkan risiko inflasi global. Kondisi tersebut membuat investor belum sepenuhnya meninggalkan dolar sehingga penurunannya berlangsung relatif moderat dibandingkan mata uang utama lainnya.
Menurut Matt Simpson, Senior Market Analyst di StoneX, pergerakan dolar saat ini berada dalam fase konsolidasi, di mana pasar menyeimbangkan dua kekuatan utama: ekspektasi kebijakan The Fed yang semakin dovish dan meningkatnya permintaan aset aman akibat ketegangan geopolitik. Ia menilai penguatan mata uang berisiko, termasuk dolar Australia, menunjukkan sebagian investor mulai kembali mencari aset berimbal hasil lebih tinggi, sehingga membatasi penguatan dolar AS dalam jangka pendek.
Kesimpulan: Pelemahan Indeks Dolar AS pada hari ini dipicu oleh kombinasi aksi ambil untung, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta menguatnya euro menjelang keputusan ECB. Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak masih menjadi faktor yang menahan pelemahan DXY agar tidak berlangsung lebih dalam. Selama pasar masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga dan tidak memberikan sinyal pengetatan baru, pergerakan DXY berpotensi tetap berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah secara terbatas.
sumber : reuters
