Indeks Dolar AS Masih Dalam Tekanan karena Menurunnya Permintaan Safe Haven
Indeks Dolar AS (DXY) terlihat masih berada dalam tekanan dan bergerak di area rendah sekitar 97,85 – 98, mendekati level terendah dalam lebih dari satu bulan terakhir. DXY diperdagangkan di 97,88 saat berita ini ditulis Pukul 13.15 WIB di hari Rabu. Secara data, indeks dolar hanya mampu bertahan tipis di sekitar 98.1–98.2, menunjukkan bahwa kekuatan dolar saat ini masih sangat terbatas meskipun ada sedikit rebound teknikal.
Faktor utama pelemahan dolar saat ini adalah menurunnya permintaan safe haven, seiring meningkatnya optimisme terhadap kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar mulai melihat adanya peluang solusi diplomatik setelah muncul sinyal “progress” dalam pembicaraan lanjutan. Kondisi ini mendorong investor beralih ke aset berisiko (risk-on), sehingga menekan permintaan terhadap dolar.
Selain itu, rilis data inflasi produsen (PPI) AS yang lebih rendah dari ekspektasi turut memperkuat tekanan terhadap dolar. Data ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi mulai mereda, sehingga pasar kembali membuka peluang bahwa Federal Reserve dapat mengambil sikap lebih dovish ke depan. Turunnya ekspektasi suku bunga tinggi (higher for longer) menjadi faktor bearish utama bagi USD dalam jangka pendek.
Di sisi lain, penurunan harga minyak dari level tertinggi sebelumnya juga berkontribusi terhadap pelemahan dolar. Ketika harga energi turun, tekanan inflasi global ikut berkurang, sehingga yield obligasi AS cenderung melemah. Penurunan yield ini mengurangi daya tarik dolar sebagai aset berbasis imbal hasil, yang semakin memperkuat tekanan jual pada DXY.
Namun demikian, pelemahan dolar masih bersifat terbatas karena faktor geopolitik belum sepenuhnya stabil. Risiko gangguan di Timur Tengah, khususnya terkait jalur distribusi energi global, masih menjadi potensi pemicu kembalinya permintaan safe haven. Hal ini membuat pergerakan DXY saat ini cenderung sideways bearish, bukan tren turun yang agresif.
Selain faktor jangka pendek, terdapat juga tekanan struktural terhadap dolar. Beberapa analis global mulai menyoroti adanya pergeseran sistem keuangan global, termasuk berkurangnya dominasi dolar dalam perdagangan energi (misalnya munculnya alternatif seperti “petroyuan”). Ditambah dengan berkurangnya aliran dana global ke aset dolar, hal ini menjadi faktor tambahan yang berpotensi menekan USD dalam jangka panjang.
sumber : reuters
