Harga Minyak WTI Pulih Saat Ketegangan Timur Tengah Sedang Berlangsung

Western Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan di sekitar $72,90 pada hari Selasa. Harga WTI naik tipis karena penurunan Dolar AS (USD). Penurunan harga WTI mungkin dibatasi oleh kekhawatiran bahwa ketegangan di Timur Tengah dan invasi Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina dapat membatasi suplai global.

Data IMP dan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang lebih kuat dari perkiraan dapat meyakinkan Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuan lebih tinggi lebih lama, yang akan mengangkat Greenback secara luas dan memberikan tekanan jual pada harga WTI. ISM menunjukkan pada hari Senin bahwa IMP Jasa AS naik menjadi 53,4 di bulan Januari dari 50,5 di bulan Desember.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat membatasi penurunan harga minyak. Amerika Serikat memulai serangan udara pembalasan pada hari Jumat terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran dan pasukan terkait di Irak dan Suriah. Serangan-serangan ini, yang menargetkan lebih dari 85 lokasi, merupakan reaksi atas kematian tiga prajurit AS dalam sebuah serangan pesawat tak berawak oleh para pemberontak Iran.

AS melancarkan serangan udara pembalasan pada hari Jumat terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran dan milisi-milisi sekutunya di Irak dan Suriah. Serangan udara yang menghantam lebih dari 85 target ini dilakukan sebagai respon atas tewasnya tiga tentara AS dalam sebuah serangan pesawat tak berawak yang dilakukan oleh militan yang bersekutu dengan Iran. Hal ini, pada gilirannya, dapat membatasi penurunan harga WTI dalam waktu dekat.

Para pedagang minyak akan memantau Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (IHP) Tiongkok untuk bulan Januari pada hari Kamis. Data yang lebih lemah dari prakiraan dapat membebani harga WTI, karena Tiongkok adalah konsumen minyak terbesar kedua di dunia.


sumber : fxstreet