Harga Minyak Turun Tajam, Salah Satu Koreksi Terbesar Sejak Krisis Energi Dimulai

Harga minyak mentah WTI mengalami penurunan tajam (crash) dan diperdagangkan kembali di bawah level psikologis $100 per barel, setelah sebelumnya sempat berada di atas $110. WTI diperdagangkan di $96,45 per barel saat berita ini ditulis Pukul 15.35 WIB pada hari Rabu. Penurunan ini tergolong ekstrem, bahkan mencapai lebih dari 15% dalam satu hari, yang menjadi salah satu koreksi terbesar sejak krisis energi dimulai.

Faktor utama yang menyebabkan anjloknya harga minyak adalah pengumuman gencatan senjata (ceasefire) antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya terganggu dan menghambat sekitar 20% distribusi minyak dunia. Dengan dibukanya kembali jalur ini, pasar langsung merespons dengan penurunan tajam karena risiko gangguan supply global berkurang secara signifikan.

Selain itu, perubahan sentimen pasar dari risk-off menjadi risk-on juga mempercepat penurunan harga minyak. Investor yang sebelumnya membeli minyak sebagai lindung nilai terhadap krisis geopolitik kini mulai melepas posisi (profit taking). Hal ini terlihat dari lonjakan pasar saham global yang terjadi bersamaan dengan penurunan harga minyak, mencerminkan berkurangnya kekhawatiran terhadap krisis energi dalam jangka pendek.

Dari sisi struktur pasar, kondisi sebelumnya yang mengalami tight supply dan panic buying kini mulai mereda. Selama konflik berlangsung, harga minyak melonjak tajam akibat kelangkaan pasokan dan gangguan distribusi global. Namun dengan adanya gencatan senjata, ekspektasi pasokan kembali normal membuat tekanan jual meningkat tajam.

Meski demikian, volatilitas minyak masih sangat tinggi. Pasar menyadari bahwa gencatan senjata ini bersifat sementara (hanya dua minggu) dan belum menjamin stabilitas jangka panjang. Risiko konflik kembali memanas tetap ada, sehingga penurunan harga saat ini berpotensi diikuti oleh rebound jika situasi geopolitik kembali memburuk.

Dari sisi harga terkini, WTI sempat turun hingga kisaran $93–$96 per barel sebelum mencoba stabil di area tersebut. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar sedang memasuki fase konsolidasi setelah shock besar, dengan pelaku pasar menunggu kejelasan lanjutan dari perkembangan geopolitik dan kebijakan global.


sumber : reuters