Harga Minyak Tertekan, Turun ke Level Terendah Empat Bulan
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali bergerak melemah pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, dan sempat turun ke kisaran $ 67–68 per barel, level terendah dalam sekitar empat bulan terakhir. WTI diperdagangkan turun 0,46% ke level $ 67,72 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.45 WIB. Pelemahan ini dipicu oleh berkurangnya premi risiko geopolitik setelah pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Doha dilaporkan menunjukkan perkembangan yang positif. Pelaku pasar mulai meyakini bahwa potensi gangguan pasokan minyak global dari kawasan Timur Tengah semakin berkurang sehingga minat terhadap aset energi melemah.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi ekspektasi meningkatnya pasokan global. OPEC+ diperkirakan akan kembali menaikkan produksi pada Agustus sekitar 188.000 barel per hari, sehingga memperkuat kekhawatiran bahwa pasar minyak akan kembali mengalami surplus pasokan pada paruh kedua tahun ini. Di sisi lain, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai pulih dan volume ekspor dari beberapa negara produsen utama meningkat, sehingga mengurangi kekhawatiran akan terjadinya krisis pasokan global.
Data persediaan minyak mentah Amerika Serikat sebenarnya masih menunjukkan penurunan sekitar 3,8 juta barel pada pekan lalu. Namun, penurunan tersebut dinilai belum cukup besar untuk mengimbangi sentimen negatif dari sisi pasokan global. Investor lebih memilih fokus pada potensi bertambahnya produksi dunia dibandingkan penurunan stok mingguan di AS, sehingga tekanan jual terhadap WTI tetap mendominasi perdagangan.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh sikap investor yang cenderung berhati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payrolls). Data tersebut berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Jika data tenaga kerja menunjukkan ekonomi AS masih kuat, peluang suku bunga bertahan lebih tinggi akan meningkat, yang berpotensi menopang dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga komoditas, termasuk minyak mentah.
Menurut Giovanni Staunovo, Senior Commodities Analyst di UBS, penurunan harga minyak saat ini terutama dipengaruhi oleh meredanya risiko geopolitik dan meningkatnya ekspektasi pasokan global. Ia menilai bahwa selama tidak terjadi gangguan baru terhadap distribusi minyak dunia, ruang penguatan harga minyak dalam jangka pendek akan tetap terbatas. Meski demikian, Staunovo juga menegaskan bahwa setiap perkembangan geopolitik yang tidak terduga masih berpotensi memicu volatilitas tinggi di pasar energi.
sumber : reuters
