Harga Minyak Tertekan Peningkatan Persediaan dan Pelemahan Produksi Industri

Harga minyak mentah berakhir anjlok pada hari Kamis tertekan peningkatan persediaan dan penurunan produksi industri.

Minyak mentah berjangka WTI AS kontrak Desember berakhir anjlok $3,76, atau 4,9%, menjadi $72,90 per barel.
Minyak mentah berjangka Brent kontrak Januari ditutup anjlok $3,76, atau 4,63%, menjadi $77,42 per barel.
Minyak mentah AS dan brent mencapai level terendah sejak awal Juli.

Persediaan minyak mentah AS naik 3,6 juta barel pada minggu lalu sementara produksi tetap stabil pada rekor 13,2 juta barel per hari, menurut data yang dirilis oleh Badan Informasi Energi pada hari Rabu.

Dan produksi industri AS turun 0,6% pada bulan Oktober karena pemogokan United Auto Workers berdampak pada produksi kendaraan bermotor, menurut data yang dirilis oleh Federal Reserve pada hari Kamis.

Sementara itu, produksi penyulingan minyak mentah China melambat 2,8% pada bulan Oktober menjadi setara dengan 15,1 juta barel per hari dari rekor tertinggi pada bulan September, menurut data dari Biro Statistik Nasional, menunjukkan melambatnya permintaan di negara tersebut.

Analis menyatakan AS memproduksi lebih banyak minyak dibandingkan negara mana pun dalam sejarah, belum lagi produksi di Kanada, Brasil, dan Guyana. Ada juga dampak musiman dari permintaan yang biasanya melambat di musim dingin.

Sebaliknya, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyalahkan spekulan atas penurunan harga baru-baru ini, dan menganggap sentimen negatif tidak berlebihan.

OPEC mengatakan impor minyak mentah China tetap sehat, meningkat sebesar 11,4 juta barel per hari pada bulan Oktober. Organisasi tersebut juga menunjuk pada pertumbuhan ekonomi AS yang kuat pada kuartal ketiga dan mencatat bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan perekonomian China akan tumbuh sebesar 5,4% tahun ini.

“Meskipun fundamental pasar sehat dan mendukung, harga minyak cenderung lebih rendah dalam beberapa pekan terakhir, terutama didorong oleh spekulator pasar keuangan,” kata organisasi tersebut dalam laporan bulanannya.

Analyst memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak mentah akan mencermati perkembangan pasokan, jika kekhawatiran peningkatan pasokan masih terjadi akan terus menekan harga minyak mentah. Namun perlu diwaspadai adanya aksi bargain hunting memanfaatkan harga minyak yang sedang murah. Harga minyak diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $72,66-$72,13. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $74,56-$75,15.


sumber : vibiznews