Harga Minyak Rebound, Risiko Gangguan Pasokan Kembali Menguat

Harga West Texas Intermediate (WTI) kembali menguat setelah terkoreksi hampir 4% pada perdagangan sebelumnya pada hari Senin. WTI diperdagangkan naik 1,85% ke level US$102,07 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB. Pemulihan tersebut membawa harga minyak mentah kembali mendekati level tertinggi hampir empat bulan, setelah serangan drone memaksa Arab Saudi menghentikan sementara operasi pada jalur pipa minyak mentah utamanya. Gangguan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global dan mendorong premi risiko geopolitik pada harga minyak.

Serangan tersebut berdampak signifikan terhadap jalur alternatif yang selama ini digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Sebagai langkah pencegahan, operasi pipa East-West Arab Saudi dihentikan segera setelah serangan pada Kamis dan hingga kini belum ada kepastian kapan operasi normal akan kembali. Pipa yang membentang melintasi Arab Saudi menuju pelabuhan di Laut Merah tersebut memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari, sehingga penghentian operasinya dapat menjadi faktor penting bagi keseimbangan pasokan apabila berlangsung lebih lama.

Risiko pasokan semakin meningkat karena jalur diplomasi di kawasan juga menghadapi hambatan. Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyatakan bahwa pembicaraan antara Iran dan sejumlah negara Teluk mengenai pembentukan koridor pelayaran sementara melalui Selat Hormuz telah ditunda. Arab Saudi dilaporkan masih memiliki kekhawatiran terhadap proposal tersebut, sementara Bahrain menyatakan tidak akan berpartisipasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa solusi diplomatik untuk menjaga kelancaran pelayaran di Hormuz masih menghadapi ketidakpastian, sehingga pasar energi tetap mempertahankan premi risiko yang tinggi.

Gangguan pipa East-West semakin menegaskan pentingnya jalur tersebut dalam menjaga kelancaran arus minyak Timur Tengah, khususnya ketika AS dan Iran masih menghadapi kebuntuan terkait kendali atas Selat Hormuz. Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman menilai risiko geopolitik masih menjadi hambatan utama bagi penurunan harga minyak secara berkelanjutan. BBH juga memperkirakan bahwa Iran memiliki insentif untuk terus meningkatkan tekanan menjelang pemilu sela AS pada 3 November, sehingga setiap penurunan harga minyak akibat meredanya ketegangan berpotensi hanya bersifat sementara.

Secara keseluruhan, bias WTI kembali bullish, selama gangguan pasokan Arab Saudi belum terselesaikan dan ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz tetap tinggi, risiko kenaikan minyak masih lebih dominan. Namun, setelah volatilitas ekstrem dan koreksi hampir 4% sebelumnya, aksi profit-taking tetap dapat terjadi dalam jangka pendek. Perkembangan operasi pipa East-West, situasi Selat Hormuz, serta perkembangan diplomasi AS-Iran akan menjadi katalis utama yang menentukan apakah WTI mampu mempertahankan momentum di atas level psikologis US$100 per barel.


sumber : fxstreet