Harga Minyak Meroket, Catat Kenaikan Terbesar dalam Sejarah

Harga minyak dunia meroket pada perdagangan pekan ini, mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan kontrak berjangka sejak 1983. Lonjakan dipicu eskalasi perang di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global.

Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) pada Jumat (6/3/2026) melonjak 15,28% atau naik US$ 12,05 dan ditutup di level US$ 90,92 per barel.

Secara mingguan, WTI melesat sekitar 35,63%. Ini merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak kontrak berjangka minyak mulai diperdagangkan pada 1983.

Lonjakan harga minyak dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak perang antara Amerika Serikat dan Iran terhadap pasokan energi global.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama dan mengguncang pasar minyak dan gas dunia.

Dampak konflik bahkan mulai terasa pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur pengiriman energi paling vital di dunia. Lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut dilaporkan hampir terhenti.

Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memperingatkan, harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga US$ 150 per barel dalam beberapa pekan ke depan jika kapal tanker tidak dapat melintasi Selat Hormuz.

Menurut dia, gangguan tersebut berpotensi mengguncang perekonomian global. “Hal ini bisa menjatuhkan ekonomi dunia,” ujar Kaabi dalam wawancara dengan Financial Times.

Kaabi juga menyebut produsen energi di kawasan Teluk kemungkinan akan menerapkan status force majeure dalam beberapa hari ke depan jika situasi tidak membaik. Kebijakan tersebut memungkinkan perusahaan menghentikan produksi karena kondisi darurat.

Sejumlah negara produsen minyak telah mulai mengurangi produksi. Dua pejabat pemerintah Irak mengatakan kepada Reuters bahwa negara tersebut telah menghentikan produksi sekitar 1,5 juta barel per hari.

Kepala riset komoditas global di JPMorgan, Natasha Kaneva, mengatakan pasar kini tidak lagi hanya memperhitungkan risiko geopolitik semata, tetapi juga mulai menghadapi gangguan operasional nyata pada pasokan energi.

Menurut dia, pemangkasan produksi minyak global dapat mendekati 6 juta barel per hari pada akhir pekan depan jika Selat Hormuz tetap tertutup bagi pelayaran.

Lonjakan harga minyak juga mulai berdampak pada harga bahan bakar. Data dari AAA menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di AS naik hampir 27 sen dalam sepekan terakhir menjadi US$ 3,25 per galon.

Sementara itu, konflik antara Iran dan AS telah memasuki hari ketujuh pada Jumat.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan militer AS masih berada pada tahap awal operasi militernya. “Kami baru saja mulai bertempur,” kata dia dalam konferensi pers.

Menurut Hegseth, Iran berharap AS tidak mampu mempertahankan konflik dalam jangka panjang. Namun ia menilai perhitungan tersebut keliru.


sumber : investor.id