Harga Minyak Mentah Anjlok, Buntut Kesepakatan Damai AS-Iran

Memasuki perdagangan hari Senin, 15 Juni 2026, pasar komoditas energi global dikejutkan oleh pelemahan tajam pada harga Minyak Mentah West Texas Intermediate (WTI). Pada pukul 13.25 WIB, harga WTI tercatat anjlok 4,46% ke level sekitar $80,6 per barel, menyentuh titik terendah sejak bulan Maret 2026. Penurunan drastis ini tidak terlepas dari sentimen fundamental makroekonomi dan geopolitik yang berubah secara tiba-tiba, di mana pasar bereaksi cepat terhadap pengumuman kesepakatan damai awal antara Amerika Serikat dan Iran yang berhasil mengakhiri konflik bersenjata di antara kedua negara.

Katalis utama yang memicu aksi jual masif pada minyak mentah pada waktu tersebut adalah rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital (chokepoint) yang menyalurkan sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, yang selama lebih dari tiga bulan terhambat akibat perang. Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan segera dicabut, sebuah langkah yang secara instan meredakan kekhawatiran pasar akan krisis pasokan energi global.

Secara fundamental, pelemahan harga WTI mencerminkan proses unwinding (penghapusan) premi risiko geopolitik yang sebelumnya sangat tinggi. Selama konflik berlangsung, dunia kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas yang memicu lonjakan harga. Namun, dengan adanya draf kesepakatan yang menyatakan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz akan dibuka kembali dalam waktu 30 hari ke depan di bawah regulasi Iran, para trader kini mulai menyesuaikan posisi mereka. Ekspektasi kelancaran jalur logistik energi global membuat harga minyak kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai (safe haven) terhadap risiko geopolitik.

Menanggapi pergerakan pasar yang ekstrem ini, Tim Waterer, Analis Pasar Senior Internasional dari KCM Trade, memberikan ulasan yang menyoroti psikologi pasar saat ini. Ia menyatakan, “Premi risiko geopolitik yang sebelumnya tertanam dalam harga minyak mentah kini sedang dibongkar dengan cukup agresif seiring dengan para trader yang mulai memperhitungkan prospek dipulihannya aliran pasokan minyak.” Menurut Waterer, penurunan harga ini adalah respons rasional pasar terhadap berkurangnya disrupsi rantai pasokan secara nyata, di mana kepastian pembukaan Selat Hormuz menjadi sinyal kuat bahwa krisis energi akut telah berlalu.

Meski demikian, beberapa analis memperingatkan bahwa penurunan harga minyak kemungkinan tidak akan berlanjut terlalu dalam dalam jangka pendek karena adanya ketidakpastian yang tersisa. Vivek Dhar, Strategi Komoditas di Commonwealth Bank of Australia, mencatat bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz hanya perlu mencapai 60-70% dari level pra-perang untuk mengembalikan pasar ke ekspektasi kelebihan pasokan (oversupply). Sementara itu, Tony Sycamore, Analis Pasar di IG, menambahkan bahwa negosiasi selama masa gencatan senjata 60 hari ke depan, terutama terkait program nuklir Iran, dapat menahan laju penurunan harga minyak mentah WTI lebih lanjut. Oleh karena itu, volatilitas harga WTI diprediksi akan tetap tinggi mengikuti dinamika diplomasi internasional ke depan.


sumber : reuters