Harga Minyak Menguat Tipis di Tengah Penandatanganan Damai AS-Iran

Pada perdagangan hari Jumat, 19 Juni 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencatatkan penguatan tipis setelah sebelumnya mengalami tekanan jual yang sangat deras di awal pekan. WTI diperdagangkan naik 1,5% ke level $ 76,62 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.40 WIB. Sebelumnya, pada tanggal 15 Juni 2026, harga minyak dunia sempat anjlok lebih dari 4-5% seiring dengan munculnya harapan de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, memasuki akhir pekan ini, sentimen pasar mulai bergeser dari ekspektasi damai yang berlebihan menjadi kewaspadaan nyata, yang membuat harga WTI kembali menguat dan bertahan di level support-nya.

Faktor geopolitik utama yang menggerakkan pasar pada tanggal 19 Juni 2026 adalah dijadwalkannya penandatanganan resmi perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan bersejarah yang dimediasi oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, ini digelar di Jenewa, Swiss, dengan agenda utama pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital pasokan energi global. Meskipun perjanjian ini secara teoritis akan membanjiri pasar dengan pasokan baru, harga WTI justru menguat tipis karena pelaku pasar masih menunggu detail teknis dan implementasi nyata dari kesepakatan damai tersebut.

Alasan fundamental mengapa WTI tidak terus tertekan dan justru menguat adalah adanya kesadaran pasar bahwa pasokan minyak global tidak akan langsung kembali normal dalam semalam. Para pakar dan analis memperingatkan bahwa meskipun Selat Hormuz akan segera dibuka secara resmi, terdapat hambatan fisik yang besar, terutama akibat penyebaran ranjau laut di perairan tersebut. Proses pembersihan ranjau dan normalisasi jalur pelayaran tanker minyak akan memakan waktu, sehingga premi risiko gangguan pasokan masih tetap melekat pada harga WTI dan mencegahnya anjlok lebih dalam.

Selain faktor geopolitik, penguatan harga WTI juga ditopang oleh data fundamental makroekonomi yang sangat kuat dari Amerika Serikat. Laporan terbaru dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS mengalami penurunan yang jauh lebih besar dari perkiraan pasar. Untuk pekan yang berakhir pada 12 Juni 2026, inventaris minyak mentah AS tercatat turun drastis sebesar 8,26 juta barel. Penarikan stok yang masif ini mengindikasikan bahwa permintaan domestik AS tetap sangat kuat dan pasar fisik sedang mengalami pengetatan pasokan, yang secara langsung memberikan lantai harga yang kokoh bagi WTI untuk menguat.

Menanggapi dinamika pasar yang sangat volatil ini, Phil Flynn, seorang Analis Pasar Senior Internasional dari Price Futures Group, memberikan pandangannya mengenai sentimen yang menggerakkan minyak mentah. Ia mencatat bahwa pasar saat ini berada dalam fase psikologis yang campur aduk akibat ketegangan yang berlangsung lama. “Harga minyak telah bergeser dari kecemasan menjadi apatis, dan kembali lagi di tengah adanya pertukaran serangan antara AS dan Iran,” ujar Phil Flynn. Pernyataan ini menegaskan bahwa selama detail teknis pembukaan Selat Hormuz belum terbukti mulus dan data inventaris AS terus menunjukkan defisit, harga WTI akan tetap resilien dan cenderung menguat meskipun narasi perdamaian global sedang digaungkan.


sumber : reuters