Harga Minyak Menguat Secara Konstruktif di Tengah Ketegangan AS-Iran
West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah Amerika Serikat, diperdagangkan di sekitar US$90,64 per barel pada awal sesi Eropa hari Rabu. Harga WTI mengalami tekanan akibat aksi ambil untung setelah kenaikan sebelumnya. Namun, ruang penurunan diperkirakan masih terbatas karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Risiko gangguan terhadap pasokan minyak global, khususnya yang berkaitan dengan jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz, berpotensi menjaga harga minyak tetap berada pada level tinggi.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal balistik dalam skala besar terhadap pangkalan udara Prince Hassan dan pangkalan Marinir Amerika Serikat di Yordania. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas serangan AS sebelumnya yang menewaskan sejumlah warga sipil. Militer AS kemudian menyatakan telah menyelesaikan gelombang serangan terhadap sejumlah target di Iran setelah adanya dugaan upaya serangan Iran terhadap kapal komersial dan personel militer AS. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut dapat dilakukan apabila Teheran kembali melakukan pembalasan. Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan menjadi faktor pendukung bagi harga WTI.
Dari sisi fundamental, persediaan minyak mentah AS menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan. Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir 28 Agustus turun sebesar 2,6 juta barel, berbalik dari kenaikan 4,2 juta barel pada pekan sebelumnya. Penurunan tersebut juga lebih besar dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 800 ribu barel. Selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati laporan Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Penurunan persediaan yang lebih besar dari perkiraan dapat mengindikasikan permintaan yang kuat dan berpotensi mendorong harga WTI lebih tinggi, sedangkan peningkatan persediaan yang lebih besar dari estimasi dapat mengindikasikan lemahnya permintaan atau meningkatnya pasokan.
Menurut TD Securities, meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Iran menunjukkan bahwa kondisi geopolitik pasar energi masih sangat rentan. Setiap kesepakatan atau memorandum of understanding (MoU) yang tercapai berpotensi memberikan kepastian yang terbatas apabila tidak didukung oleh kondisi geopolitik yang stabil. Situasi tersebut membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan arus perdagangan energi melalui titik-titik strategis, terutama Selat Hormuz. Dengan demikian, meskipun aksi ambil untung dapat menekan harga dalam jangka pendek, risiko geopolitik masih menjadi faktor penting yang berpotensi membatasi koreksi WTI.
Dari sisi teknikal, WTI masih menunjukkan struktur bullish yang konstruktif karena harga berada cukup kuat di atas Moving Average (MA) 100 hari dan garis tengah Bollinger Band. Relative Strength Index (RSI) 14 berada di sekitar level 62, yang menunjukkan momentum kenaikan masih solid tetapi belum memasuki kondisi jenuh beli. Resistance terdekat berada di sekitar US$89,55 yang bertepatan dengan batas atas Bollinger Band. Penutupan harian di atas level tersebut dapat membuka peluang kenaikan lebih lanjut. Sementara itu, support awal berada di sekitar US$85,10 pada MA 100 hari, diikuti US$83,15 pada garis tengah Bollinger Band. Jika terjadi koreksi yang lebih dalam, support berikutnya berada di sekitar US$76,70. Secara keseluruhan, bias WTI masih bullish, dengan potensi kenaikan tetap terbuka selama harga bertahan di atas area support utama.
sumber : fxstreet
