Harga Minyak Menguat, Ketegangan Timur Tengah dan Kekhawatiran Pasokan Pemicunya

Harga Minyak Mentah WTI diperdagangkan menguat, rebound dari akhir pekan lalu. WTI diperdagangkan naik 4,39% ke level $94,38 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB pada hari Senin, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Faktor utama yang mendorong penguatan WTI adalah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah muncul laporan serangan militer baru yang memicu kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi energi global. Pelaku pasar kembali menyoroti risiko terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi rute pengiriman sekitar 13% pasokan minyak dunia. Ancaman gangguan pasokan dari kawasan tersebut membuat investor meningkatkan pembelian kontrak minyak sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kelangkaan pasokan.

Selain faktor geopolitik, laporan fundamental energi juga menunjukkan bahwa persediaan minyak global masih berada dalam tren penurunan. Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) memperkirakan inventori minyak dunia terus menyusut sepanjang 2026 akibat ketatnya pasokan dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memperkuat persepsi bahwa pasar minyak masih menghadapi risiko defisit pasokan meskipun beberapa produsen berupaya meningkatkan produksi.

Di sisi lain, keputusan OPEC+ untuk kembali menaikkan kuota produksi pada Juli 2026 belum mampu meredam sentimen bullish pasar. Kenaikan kuota sebesar sekitar 188.000 barel per hari dinilai relatif kecil dibandingkan potensi gangguan pasokan yang terjadi akibat konflik regional. Beberapa analis bahkan menilai tambahan produksi tersebut lebih bersifat simbolis karena kendala distribusi dan pengiriman minyak masih menjadi masalah utama.

Menurut analisis senior dari Reuters, pasar minyak saat ini terlihat tenang di permukaan, namun sebenarnya menghadapi berbagai ketidakpastian besar terkait pasokan dan permintaan global. Analis Reuters Open Interest, Clyde Russell, menyoroti bahwa penurunan persediaan global yang cukup tajam serta ketidakpastian mengenai arus minyak melalui Selat Hormuz membuat pasar tetap rentan terhadap lonjakan harga lebih lanjut apabila terjadi gangguan tambahan pada rantai pasokan energi dunia.

Secara keseluruhan, penguatan harga WTI didorong oleh kombinasi faktor geopolitik dan fundamental pasokan. Selama risiko gangguan pasokan di Timur Tengah masih tinggi dan persediaan minyak global terus menyusut, harga minyak berpotensi mempertahankan bias bullish dalam jangka pendek. Namun demikian, investor tetap perlu mencermati perkembangan konflik regional, kebijakan produksi OPEC+, serta data permintaan energi global yang akan menjadi penentu arah pergerakan WTI berikutnya.


sumber : reuters