Harga Minyak Menguat di Tengah Eskalasi Konflik AS–Iran
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dibuka dengan gap bullish dan tetap berada di zona positif, diperdagangkan di US$85,52 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.25 WIB di hari Senin. Penguatan harga minyak terjadi setelah Iran meluncurkan serangkaian rudal balistik dan rudal jelajah antikapal ke sejumlah lokasi, termasuk Teheran, Lorestan, Karaj, Khorramabad, dan Shiraz. Serangan tersebut diarahkan ke posisi di sekitar Selat Hormuz dan merupakan respons terhadap serangan Amerika Serikat (AS) pada Minggu sebelumnya terhadap fasilitas peluncur rudal Iran di Pulau Larak.
Serangan AS tersebut menjadi salah satu perkembangan militer paling signifikan dalam konflik terbaru karena secara langsung menargetkan posisi militer Iran yang diduga mempersiapkan pemasangan ranjau di Selat Hormuz. Amerika Serikat menyatakan terus memantau jalur strategis tersebut guna menjaga kelancaran arus perdagangan global. Meskipun demikian, strategi Washington belakangan ini cenderung mengutamakan tekanan ekonomi dan sanksi dibandingkan aksi militer langsung sebagai upaya mendorong Teheran kembali ke meja perundingan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, peluang diplomasi masih terbuka. Seorang pejabat Iran menyatakan bahwa pembicaraan dengan AS tetap dapat dilanjutkan setelah dialog konstruktif yang dimediasi Qatar. Kondisi ini menjadi faktor penting bagi pasar minyak karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Diperkirakan sekitar 6–8 juta barel minyak mentah masih melewati selat tersebut setiap hari, sehingga setiap gangguan terhadap jalur pelayaran berpotensi menimbulkan tekanan baru terhadap pasokan dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Namun, ruang kenaikan WTI berpotensi tetap terbatas apabila arus ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia terus mengalami pemulihan. Brown Brothers Harriman menilai tekanan kenaikan harga minyak mentah tampaknya masih terbatas. Sementara itu, estimasi Goldman Sachs menunjukkan bahwa ekspor minyak dari Teluk Persia telah kembali mencapai sekitar dua pertiga dari level sebelum perang seiring meningkatnya jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz. Pemulihan arus pengiriman tersebut membantu meredakan kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan dan membatasi potensi lonjakan harga minyak yang lebih besar.
Secara keseluruhan, WTI masih memiliki bias bullish dalam jangka pendek karena eskalasi konflik AS–Iran meningkatkan premi risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi. Namun, pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz serta masih terbukanya jalur diplomasi dapat membatasi penguatan lebih lanjut. Dengan demikian, arah WTI selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan militer di sekitar Selat Hormuz dan kemampuan Iran serta AS untuk mempertahankan jalur perundingan.
sumber : fxstreet
