Harga Minyak Melonjak Naik, Didominasi Eskalasi Ulang Konflik AS-Iran

Harga minyak mentah WTI kembali menunjukkan lonjakan volatilitas tinggi, diperdagangkan di kisaran $86 – $89 per barel, setelah sempat mengalami penurunan tajam sebelumnya. WTI diperdagangkan naik 5,08% di $87,33 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.15 WIB pada hari Senin. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mampu rebound lebih dari 5%–6% dalam sehari, mencerminkan kondisi pasar yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik.

Faktor utama yang saat ini mendominasi pergerakan minyak adalah eskalasi ulang konflik antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait ketegangan di kawasan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu titik paling krusial dalam distribusi energi global karena menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan atau penutupan jalur ini langsung memicu kekhawatiran supply shock dan mendorong lonjakan harga minyak secara cepat.

Selain itu, situasi semakin kompleks karena ketidakpastian terkait gencatan senjata. Setelah sebelumnya muncul harapan de-eskalasi, laporan terbaru menunjukkan adanya pelanggaran kesepakatan serta aksi militer di kawasan Teluk. Hal ini membuat pasar kembali masuk ke mode risk premium tinggi, di mana harga minyak mencerminkan risiko geopolitik, bukan sekadar kondisi supply-demand normal.

Di sisi fundamental supply, gangguan distribusi masih signifikan. Diperkirakan jutaan barel minyak per hari masih tertahan akibat konflik dan gangguan logistik. Bahkan, beberapa tanker dilaporkan tidak dapat melintas dengan aman, sehingga mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini membuat pasar tetap menganggap supply global dalam keadaan tight (terbatas) meskipun ada upaya diplomasi.

Namun di sisi lain, terdapat faktor yang menahan kenaikan harga agar tidak terlalu agresif, yaitu ketidakpastian permintaan global. Harga energi yang sempat melonjak tajam sebelumnya mulai menekan konsumsi, terutama di negara-negara importir besar. Selain itu, pasar juga khawatir bahwa jika harga minyak tetap tinggi, maka akan memicu perlambatan ekonomi global yang pada akhirnya menekan demand energi.

Menariknya, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa minyak berada dalam fase extreme volatility (dua arah):

* Saat konflik mereda → harga turun cepat (risk-off supply premium)
* Saat konflik memanas → harga naik tajam (supply shock fear)

Hal ini membuat WTI bergerak sangat fluktuatif dan sering mengalami spike + reversal dalam waktu singkat.


sumber : reuters