Harga Minyak Melemah Tajam, Kesepakatan Damai AS-Iran Tekan Harga

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, dengan tercatat turun signifikan ke level $73,98 per barel, melemah sekitar 1,28% saat berita ini ditulis Pukul 14.10 WIB. Penurunan ini merupakan bagian dari tren bearish yang lebih besar di mana harga minyak mentah telah anjlok lebih dari 27-28% dalam sebulan terakhir, menandai koreksi tajam dari level tertingginya yang sempat menembus US$110 per barel pada puncak ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pelemahan ini terjadi seiring dengan perubahan sentimen pasar yang drastis setelah adanya terobosan diplomatik yang signifikan di kancah internasional.

Katalis utama di balik pelemahan harga minyak adalah penandatanganan kesepakatan damai interim antara Amerika Serikat dan Iran berupa nota kesepahaman 14 poin yang menginisiasi periode negosiasi selama 60 hari. Berdasarkan kesepakatan bersejarah ini, Iran akan mengizinkan jalur bebas hambatan melalui Selat Hormuz, salah satu rute pengiriman minyak dan gas paling penting di dunia yang selama ini mengalami gangguan. Kesepakatan tersebut juga menargetkan pemulihan lalu lintas pelayaran melalui selat kembali ke kapasitas penuh dalam waktu 30 hari, yang secara signifikan mengurangi kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan global yang sebelumnya mendukung harga minyak tetap tinggi. Optimisme ini mendorong ekspektasi bahwa ekspor minyak Iran dapat kembali ke pasar global lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dampak dari kesepakatan damai AS-Iran ini tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mengubah prospek pasokan minyak global secara fundamental. Para analis mencatat bahwa para trader terus memasukkan harga ke dalam ekspektasi kembalinya ekspor minyak Iran secara lebih cepat setelah nota kesepahaman antara Washington dan Tehran. International Energy Agency (IEA) bahkan memberikan peringatan bahwa jika kesepakatan ini diimplementasikan sepenuhnya dan ekspor energi kembali normal, kekurangan pasokan yang terjadi saat ini pada akhirnya dapat berubah menjadi surplus yang besar. Menurut proyeksi terbaru IEA, pasokan minyak global berpotensi melebihi permintaan hingga 5,05 juta barel per hari pada tahun 2027 seiring dengan kembalinya produksi tambahan dari Timur Tengah ke pasar, sebuah skenario yang dapat memberikan tekanan turun tambahan pada harga minyak mentah dalam jangka menengah.

Selain faktor pasokan, kekhawatiran dari sisi permintaan juga turut memberikan tekanan tambahan pada harga minyak mentah WTI. Investor kini semakin memantau prospek kebijakan moneter Amerika Serikat di mana Federal Reserve semakin mempertimbangkan kemungkinan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini untuk mengatasi tekanan inflasi. Biaya pinjaman yang lebih tinggi berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi dan mengurangi konsumsi bahan bakar, menciptakan headwind tambahan bagi permintaan minyak. Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa sembilan dari 19 pembuat kebijakan Federal Reserve sekarang mengharapkan setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini, menandai pergeseran nyata dari perkiraan sebelumnya dan menambah lapisan kehati-hatian baru di pasar energi yang sedang menyesuaikan diri dengan perubahan ekspektasi pasokan.

Meskipun demikian, para analis internasional mengingatkan bahwa realitas fisik pasar minyak mungkin tidak akan segera berubah drastis hanya karena pengumuman politik. June Goh, Senior Oil Analyst di Sparta Commodities, memberikan perspektif yang lebih realistis dengan menyatakan: “The underlying supply shortfall of 10–11 million barrels per day of crude oil does not go away immediately and will see markets still drawing inventories until Middle Eastern crude production is back online, which is months away”. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa meskipun harga minyak jatuh hampir 7% pada optimisme kesepakatan damai, kekurangan pasokan mendasar sebesar 10-11 juta barel per hari tidak akan hilang secara instan dan pasar masih akan mengalami penarikan inventaris hingga produksi minyak Timur Tengah kembali online, yang membutuhkan waktu berbulan-bulan. Dengan demikian, sementara sentimen pasar saat ini didominasi oleh optimisme geopolitik, fundamental fisik pasar menunjukkan bahwa normalisasi aliran pasokan akan menjadi proses yang bertahap dan kompleks, bukan sesuatu yang dapat terjadi dalam semalam.


sumber : reuters