Harga Minyak Melemah, Sentimen Geopolitik Mulai Mereda

Harga Minyak Mentah WTI (West Texas Intermediate) melemah pada Selasa, 9 Juni 2026 setelah pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong reli harga minyak. WTI diperdagangkan turun 1,64% ke level $ 89,79 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.50 WIB. Pelemahan ini terjadi menyusul pengumuman penghentian sementara serangan antara Iran dan Israel yang mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Faktor utama yang menekan harga minyak hari ini adalah berkurangnya kekhawatiran terhadap jalur distribusi energi global, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur ekspor minyak paling penting di dunia. Ketika risiko gangguan pasokan menurun, investor mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan harga yang cukup signifikan dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Sentimen pasar berubah dari mode “risk premium” menjadi lebih fokus pada keseimbangan fundamental permintaan dan pasokan global.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati keputusan terbaru OPEC+ yang menyetujui kenaikan kuota produksi untuk bulan Juli. Organisasi tersebut kembali meningkatkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari, menandai kenaikan kuota untuk bulan keempat berturut-turut. Walaupun realisasi produksi aktual masih menghadapi berbagai kendala, keputusan tersebut memberikan sinyal bahwa pasokan global berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang sehingga membatasi ruang kenaikan harga minyak.

Di sisi lain, prospek permintaan energi global masih menjadi perhatian investor. Laporan pasar minyak internasional menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi minyak dunia pada tahun 2026 menghadapi tekanan akibat perlambatan aktivitas ekonomi global dan tingginya harga energi dalam beberapa bulan terakhir. Kekhawatiran mengenai permintaan yang lebih lemah membuat pelaku pasar lebih berhati-hati untuk mendorong harga minyak lebih tinggi meskipun kondisi pasokan masih relatif ketat.

Meski demikian, pelemahan WTI masih tergolong terbatas karena pasar tetap mempertimbangkan sejumlah risiko pasokan yang belum sepenuhnya hilang. Rusia dilaporkan akan memangkas ekspor minyak mentah pada Juni akibat peningkatan aktivitas kilang domestik dan penurunan produksi. Faktor ini berpotensi mengurangi pasokan ekspor global dan memberikan penopang bagi harga minyak apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat dalam waktu dekat.

Menurut analis senior komoditas dari ANZ Research, pasar saat ini sedang melakukan penyesuaian terhadap berkurangnya risiko konflik Timur Tengah. Mereka menilai bahwa penghentian sementara serangan antara Iran dan Israel telah mengurangi premi risiko yang sebelumnya dibangun pasar, sehingga mendorong koreksi harga minyak. Namun, ANZ juga menegaskan bahwa ketidakpastian masih tinggi karena situasi geopolitik kawasan belum sepenuhnya stabil dan setiap perkembangan baru dapat kembali memicu volatilitas harga energi global.

Secara keseluruhan, pelemahan WTI dipicu oleh kombinasi meredanya ketegangan Iran-Israel, berkurangnya kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah, keputusan OPEC+ untuk kembali menaikkan kuota produksi, serta kekhawatiran terhadap prospek permintaan minyak global. Meskipun demikian, pasar masih akan memantau perkembangan geopolitik dan dinamika pasokan dari negara-negara produsen utama yang berpotensi mengubah arah pergerakan harga dalam jangka pendek.


sumber : reuters