Harga Minyak Konsolidasi, Setelah Capai Level Tertinggi Enam Bulan
Pada sesi Eropa pagi ini, WTI crude oil menunjukkan pergerakan yang relatif stabil namun di level tinggi, setelah sempat mencapai harga tertinggi selama enam bulan pada hari sebelumnya. Harga WTI diperdagangkan di sekitar US$66,74 per barel, mencerminkan area harga yang relatif kuat sambil menunggu reaksi pasar terhadap berita geopolitik dan data ekonomi global terbaru.
Salah satu faktor utama yang mendukung harga minyak adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan melalui Strait of Hormuz terus menempatkan premium risiko pada harga minyak. Meskipun negosiasi nuklir antara kedua negara masih berlangsung, ancaman konflik masih menjadi latar utama yang mendukung tekanan bullish harga minyak.
Namun, pada saat yang sama, optimisme terhadap pembicaraan diplomatik turut meredakan sebagian tekanan pasar. Presiden AS menegaskan preferensinya terhadap penyelesaian diplomatik dalam negosiasi nuklir dengan Iran, yang mengisyaratkan harapan pasar bahwa ketegangan dapat mereda tanpa eskalasi militer. Hal ini membuat pergerakan minyak tidak sepenuhnya naik tajam dan menciptakan zona konsolidasi harga pada sesi Eropa ini.
Selain risiko geopolitik, ketidakpastian ekonomi global — khususnya dampak kebijakan tarif impor AS — juga menjadi katalis utama di pasar energi. Risiko pertumbuhan yang tertekan akibat ketidakjelasan kebijakan dan kekhawatiran terhadap permintaan minyak global membuat pelaku pasar mengambil sikap hati-hati. Meskipun permintaan energi masih solid, ekspektasi permintaan jangka dekat belum begitu kuat untuk mendorong kenaikan signifikan di atas level saat ini.
Dalam jangka pendek selama sesi Eropa hari ini, harga WTI diperkirakan akan bergerak dalam kisaran terbatas, dengan bias sideways to bullish selama tekanan geopolitik tetap relevan. Pola aksi harga menunjukkan resistensi di area high enam bulan, sementara level support penting masih berada di dekat US$65,5–66,0 per barel. Pelaku pasar kemungkinan akan terus mengamati hasil perundingan diplomatik dan data inventori minyak untuk memberikan sinyal arah berikutnya dalam beberapa hari ke depan.
sumber : reuters
