Harga Minyak Ditutup Turun, Meski Sempat Capai Level Tertinggi Tiga Tahun
Harga minyak dunia ditutup turun, meski sempat melonjak hampir 7% pada perdagangan Senin (9/3/2026), mencapai level tertinggi sejak 2022. Lonjakan ini dipicu oleh pemangkasan pasokan oleh Arab Saudi dan sejumlah negara anggota OPEC di tengah meluasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 6,44% dan ditutup di US$ 85,06 per barel.
Sepanjang sesi perdagangan, harga minyak sempat melonjak tajam. WTI mencapai US$ 119,43 per barel, yang menjadi harga intraday tertinggi sejak Juni 2022. Level tersebut mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH), yakni sekitar US$ 147 per barel pada 2008.
Namun setelah penutupan pasar, harga minyak berbalik melemah. Pelemahan terjadi setelah muncul kabar adanya percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Harga bahkan sempat turun lebih dari 5% setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia untuk meredam lonjakan harga energi global.
Sebelumnya, Putin menyatakan Rusia siap memasok minyak dan gas alam ke Eropa guna membantu menstabilkan pasar energi.
Kenaikan harga minyak juga didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Perang yang melibatkan Iran disebut telah membuat Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, praktis terhenti.
Situasi semakin memanas setelah kelompok garis keras Iran menggelar aksi besar-besaran untuk menunjukkan dukungan kepada pemimpin tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang dianggap memperkecil peluang berakhirnya perang dalam waktu dekat.
Di sisi lain, perusahaan minyak raksasa Arab Saudi Saudi Aramco mulai memangkas produksi di dua ladang minyaknya. Langkah tersebut mengikuti pengurangan pasokan yang juga dilakukan oleh Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Qatar, di tengah hambatan pengiriman dan keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Meski demikian, sebuah kapal tanker yang dioperasikan perusahaan Yunani dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz dengan membawa minyak mentah Saudi. Hal ini menunjukkan sebagian kapal komersial masih mencoba melintasi jalur strategis tersebut.
Perusahaan analisis data energi Kpler memperkirakan bahwa meskipun Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat, dibutuhkan enam hingga tujuh minggu bagi ekspor minyak dari kawasan Teluk untuk kembali normal.
Di tengah lonjakan harga minyak, Presiden AS Donald Trump disebut tengah menyiapkan sejumlah opsi untuk menstabilkan pasar energi. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pelepasan cadangan minyak strategis bersama negara lain.
Selain itu, pemerintah AS juga dikabarkan mempertimbangkan langkah lain, seperti membatasi ekspor minyak AS, melakukan intervensi di pasar berjangka minyak, menghapus sebagian pajak energi, hingga melonggarkan aturan pengiriman bahan bakar domestik.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, opsi yang tersedia untuk meredam harga minyak relatif terbatas. Menurut dia, pelepasan cadangan minyak strategis hanya akan memberikan dampak kecil dibandingkan potensi gangguan pasokan besar jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama.
Sementara itu, negara-negara Group of Seven (G7) menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk merespons lonjakan harga minyak global, meskipun belum ada keputusan resmi terkait pelepasan cadangan energi darurat.
Lonjakan harga minyak mulai menimbulkan dampak di berbagai negara. Di Pakistan, Perdana Menteri Shehbaz Sharif memutuskan menutup sekolah selama dua minggu dan mendorong lebih banyak pekerja untuk bekerja dari rumah guna menekan konsumsi bahan bakar.
Sementara itu, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban mengumumkan pembatasan harga bahan bakar setelah rapat darurat pemerintah. Ia juga mendesak Uni Eropa untuk menangguhkan sanksi terhadap energi Rusia terkait perang di Ukraina.
Kenaikan harga minyak juga menghantam sektor penerbangan. Saham maskapai tertekan, sementara tarif penerbangan melonjak tajam seiring meningkatnya harga bahan bakar jet.
Di sisi lain, lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi global semakin tinggi. Kondisi ini dapat memaksa bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga, yang pada akhirnya berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan energi.
sumber : investor.id
