Harga Minyak Bertahan di Atas US$90, Risiko Geopolitik Menopang Prospek Bullish
West Texas Intermediate (WTI), patokan harga minyak mentah Amerika Serikat, diperdagangkan di US$91,4 pada sesi awal Eropa di hari Jumat. Meskipun mengalami sedikit tekanan, WTI masih berada di dekat level tertinggi sejak 24 Juli 2026 yang dicapai pada awal pekan. Harga minyak juga berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan paling tajam sejak pertengahan Juli 2026. Penguatan tersebut terutama didukung oleh kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat konflik di sekitar Selat Hormuz.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dilaporkan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) pada Kamis. Di sisi lain, Korea Selatan dikabarkan tengah mempersiapkan pengerahan aset militernya untuk mendukung kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan menargetkan pengiriman aset tersebut sebelum akhir tahun. Perkembangan ini mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar minyak karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Selama ketegangan masih berlangsung dan risiko gangguan distribusi belum mereda, harga WTI berpotensi mendapatkan dukungan dalam jangka pendek.
Dari sisi teknikal, WTI juga masih menunjukkan bias bullish jangka pendek karena harga bertahan di atas Fibonacci retracement 50% dari penurunan April–Juli serta Simple Moving Average (SMA) 100-hari. Indikator momentum turut memberikan konfirmasi positif terhadap tren tersebut. Relative Strength Index (RSI) 14 berada di sekitar 63, yang menunjukkan momentum kenaikan masih kuat meskipun mulai mendekati area jenuh beli. Sementara itu, Moving Average Convergence Divergence (MACD) tetap berada di wilayah positif. Kombinasi indikator tersebut mengindikasikan bahwa pembeli masih mengendalikan pergerakan harga dan koreksi berpotensi dimanfaatkan sebagai peluang beli selama support utama tetap bertahan.
Di sisi atas, resistance penting berada di Fibonacci retracement 61,8% pada US$92,01. Penembusan dan penutupan yang kuat di atas level tersebut dapat menjadi konfirmasi lanjutan bagi tren bullish sekaligus membuka peluang kenaikan menuju US$98,76 pada Fibonacci retracement 78,6%. Apabila momentum penguatan berlanjut dan harga mampu menembus level tersebut secara berkelanjutan, target berikutnya berada di sekitar US$107,36 yang merupakan swing high sebelumnya. Oleh karena itu, level US$92,01 menjadi area penting yang perlu diperhatikan untuk mengukur kekuatan lanjutan dari tren naik WTI.
Sementara itu, support terdekat berada di US$87,26 pada Fibonacci retracement 50%, kemudian SMA 100-hari di sekitar US$85,17. Jika harga mengalami koreksi lebih dalam, area US$82,52 dan US$76,65 menjadi support berikutnya yang berpotensi menahan tekanan jual. Selama WTI tetap berada di atas US$85,17, struktur bullish jangka pendek masih relatif terjaga. Secara keseluruhan, bias WTI masih bullish, dengan US$92,01 sebagai level konfirmasi kenaikan berikutnya dan US$87,26–US$85,17 sebagai zona support penting. Namun, mengingat RSI sudah mendekati area jenuh beli, pelaku pasar perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung sebelum tren naik kembali berlanjut.
sumber : fxstreet
