Harga Minyak Anjlok, Imbas Redanya Risiko Geopolitik dan Pulihnya Pasokan Global
Harga Minyak Mentah WTI (West Texas Intermediate) melemah pada Jumat, 26 Juni 2026, seiring berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong lonjakan harga minyak. WTI diperdagangkan turun 1,39% ke level $ 70,42 per barel saat berita ini ditulis Pukul 13.55 WIB. Pelaku pasar mulai kembali fokus pada kondisi fundamental pasar energi setelah arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menunjukkan pemulihan yang signifikan. Kembalinya aktivitas kapal tanker di jalur pelayaran utama tersebut mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan global, sehingga mendorong aksi jual pada kontrak minyak mentah.
Selain itu, optimisme terhadap proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran turut mengurangi kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan jangka panjang. Setelah beberapa pekan terakhir ketegangan geopolitik menjadi faktor utama penggerak harga minyak, para investor kini menilai bahwa peluang terjadinya gangguan besar terhadap distribusi minyak dunia semakin kecil. Akibatnya, premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga minyak mulai menghilang dan mendorong WTI bergerak turun.
Faktor lain yang membebani harga WTI adalah meningkatnya aktivitas ekspor minyak dari kawasan Teluk. Beberapa terminal ekspor utama, termasuk fasilitas milik Saudi Aramco, dilaporkan kembali beroperasi normal setelah sebelumnya mengalami gangguan. Bertambahnya jumlah kapal tanker yang melakukan pemuatan minyak meningkatkan ekspektasi bahwa pasokan global akan kembali stabil dalam waktu dekat. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar minyak tidak lagi menghadapi risiko kekurangan pasokan seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.
Di sisi permintaan, prospek konsumsi minyak global masih dibayangi lemahnya permintaan dari China. Aktivitas impor minyak mentah negara tersebut masih relatif terbatas dibandingkan periode sebelumnya, sementara sejumlah kilang tetap berhati-hati dalam meningkatkan pembelian. Kombinasi antara pasokan yang mulai pulih dan permintaan yang belum menunjukkan percepatan membuat keseimbangan pasar kembali condong ke arah tekanan bearish bagi harga minyak.
Dari sisi sentimen pasar, aksi ambil untung (profit taking) juga memperbesar tekanan jual. Setelah reli tajam yang dipicu konflik geopolitik beberapa waktu lalu, banyak investor memilih merealisasikan keuntungan ketika risiko konflik mulai mereda. Akibatnya, WTI mencatat penurunan mingguan yang cukup tajam dan kembali diperdagangkan di kisaran US$70 per barel, mendekati level sebelum eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurut Warren Patterson, Head of Commodities Strategy di ING, peningkatan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai mereda. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemulihan arus pengiriman tersebut sebagian masih dipengaruhi oleh kapal-kapal yang sebelumnya tertahan sehingga pasar tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik berikutnya. Pandangan tersebut menegaskan bahwa selama pasokan tetap mengalir lancar dan permintaan global belum pulih secara signifikan, harga minyak berpotensi tetap berada di bawah tekanan dalam jangka pendek.
sumber : reuters
