Harga Logam Mulia Kompak Anjlok, Setelah Menguat Dua Hari Beruntun
Harga emas dunia kembali turun tajam pada Kamis (5/2/2026), setelah sempat menguat dalam dua hari perdagangan sebelumnya. Tekanan jual yang kembali muncul menegaskan volatilitas tinggi di pasar logam mulia pasca aksi jual besar-besaran pada akhir pekan lalu, dengan pergerakan perak tercatat jauh lebih ekstrem dibanding emas.
Dikutip dari CNBC internasional, meski demikian, bank-bank investasi global menilai tren bullish emas belum berakhir. Namun, investor di sarankan lebih berhati-hati terhadap perak yang dinilai masih rawan gejolak.
Mengutip CNBC internasional, harga emas spot anjlok 3,73% dan ditutup di level US$ 4.779,42 per ons. Pelemahan ini membalikkan reli dua hari beruntun yang sebelumnya mendorong harga emas masing-masing naik 6% dan 2%.
Tekanan di pasar perak dinilai jauh lebih berat. Harga perak spot ambrol 19,6% dan ditutup di posisi US$ 70,83 per ons, setelah sebelumnya melonjak 6% pada Rabu dan 7,6% pada hari Selasa.
Pergerakan tajam ini terjadi setelah pasar logam mulia diguncang aksi jual besar pada Jumat lalu. Emas tercatat turun sekitar 9%, sedangkan perak terjun hampir 30%, menjadi penurunan harian terdalam sejak 1980 untuk kontrak berjangka perak.
Aksi jual tersebut dipicu kekhawatiran investor menyusul nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed. Tekanan berlanjut hingga awal pekan ini, sebelum akhirnya arus dana kembali masuk ke aset aman, termasuk emas, seiring rotasi besar dari saham teknologi dan perangkat lunak.
Sejumlah analis menilai emas masih berada dalam tren bullish jangka menengah hingga panjang. Strategis UBS menyebut koreksi harga yang terjadi merupakan volatilitas wajar dalam tren naik struktural, bukan sinyal berakhirnya pasar bullish emas.
Menurut UBS, emas saat ini berada pada fase menengah hingga akhir dari siklus bullish, ditandai dengan pencetakan level tertinggi baru namun disertai koreksi berkala sekitar 5–8%.
UBS menyebut, faktor-faktor yang biasanya menandai berakhirnya reli emas, seperti suku bunga riil tinggi secara persisten, dolar AS yang menguat struktural, stabilitas geopolitik, serta pulihnya kredibilitas bank sentral, dinilai belum muncul.
UBS memproyeksikan harga emas dapat menembus US$ 6.200 per ons pada bulan depan, sebelum terkoreksi ke sekitar US$ 5.900 hingga akhir tahun. Bank investasi tersebut tetap mempertahankan posisi beli (long) pada emas dan menilai volatilitas justru membuka peluang bagi investor pencari imbal hasil.
Nada optimistis juga datang dari Goldman Sachs. Bank investasi tersebut melihat potensi kenaikan harga emas masih signifikan, dengan target US$ 5.400 per ons pada Desember 2026. Proyeksi ini didukung oleh pembelian emas yang berlanjut oleh bank sentral serta meningkatnya minat investor terhadap ETF emas seiring pemangkasan suku bunga The Fed.
Bank of America (BofA) bahkan memperkirakan emas berpeluang menyentuh US$ 6.000 per ons dalam beberapa bulan ke depan. Meski demikian, BofA mengingatkan adanya kekhawatiran terhadap kecepatan kenaikan harga dan lonjakan volatilitas.
Tidak hanya itu, BofA menambahkan, ketidakpastian arah kebijakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump pasca pemilu paruh waktu November juga disebut berpotensi menjadi faktor penekan.
Berbeda dengan emas, prospek perak dinilai lebih kompleks. UBS menilai harga perak masih perlu turun lebih jauh untuk kembali menarik secara risiko dan imbal hasil. Dengan volatilitas yang mencapai 60–120%, UBS menilai perak seharusnya menawarkan potensi imbal hasil 30–60%, sesuatu yang saat ini belum terlihat.
Sepanjang 2025, perak sempat mencatat kinerja luar biasa dengan kenaikan tahunan sekitar 150%, mengungguli emas. Namun, koreksi tajam terbaru membuat harga perak jatuh lebih dari 30% dari rekor tertingginya yang dicapai hanya beberapa hari sebelumnya.
UBS memproyeksikan harga perak spot dapat kembali ke level US$ 100 per ons pada bulan depan, sebelum turun ke sekitar US$ 85 hingga akhir tahun. Namun, lebih dari 50% permintaan perak berasal dari sektor industri, mulai dari komputer, panel surya, perangkat medis, hingga otomotif, sehingga harga tinggi justru berisiko menekan permintaan.
Goldman Sachs juga bersikap lebih hati-hati terhadap perak dibanding emas, terutama karena keterbatasan pasokan dan tekanan likuiditas di pasar London. Kondisi ini dinilai memperparah volatilitas harga.
Sementara itu, BofA menilai koreksi harga perak cukup wajar mengingat sebelumnya telah bergerak jauh di atas nilai wajarnya, yang diperkirakan berada di kisaran US$ 60–70 per ons. Meski begitu, defisit pasokan diperkirakan masih akan menopang harga Perak dalam jangka menengah.
sumber : investor.id
