Harga Emas Turun Tajam karena Aksi Profit Taking Investor
Harga emas dunia turun tajam pada perdagangan Rabu (7/1/2025), seiring aksi profit taking investor setelah reli kuat dalam beberapa waktu terakhir. Meski begitu, penurunan harga sempat tertahan oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
Harga emas spot tercatat jatuh 0,93% dan ditutup di level US$ 4.456,32 per ons. Sepanjang sesi perdagangan, harga emas bahkan sempat tertekan hingga 1,7% ke posisi US$ 4.423,27 per ons.
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures David Meger menilai, pelemahan harga emas kali ini lebih disebabkan oleh aksi profit taking setelah lonjakan harga yang cukup signifikan sebelumnya. “Kami melihat koreksi hari ini sebagai aksi profit taking secara umum setelah lonjakan harga yang cukup tajam,” ujar Meger dkutp dar CNBC internasonal.
Namun demikian, Meger menambahkan, data ketenagakerjaan AS yang melemah tetap menjadi faktor pendukung harga emas dalam jangka menengah. Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS pada November turun lebih besar dari perkiraan, setelah hanya naik tipis pada Oktober.
Sementara itu, laporan ADP mencatat pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta pada Desember juga berada di bawah ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut semakin memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya. Berdasarkan data LSEG, pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 61 basis poin sepanjang tahun ini. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada rilis data nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan pada Jumat.
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik global masih membayangi pasar. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhir pekan lalu memicu dinamika baru, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk memurnikan dan menjual minyak mentah Venezuela.
Gedung Putih juga mengonfirmasi adanya pembahasan terkait kemungkinan akuisisi Greenland, termasuk opsi keterlibatan militer.
Dari Asia, sentimen positif datang dari China. Bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya pada Desember, memperpanjang tren pembelian emas selama 14 bulan berturut-turut. “Data dari China terus menunjukkan kuatnya permintaan dari Asia. Ini menjadi salah satu alasan utama mengapa harga emas sebelumnya mampu bergerak naik,” kata Meger.
Sebagai aset lindung nilai yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah serta di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Sementara itu, harga logam mulia lainnya ikut tertekan. Perak spot anjlok 3,91% dan ditutup di level US$ 78,15 per ons. HSBC menaikkan proyeksi harga perak tahun 2026 menjadi US$ 68,25 per ons, namun mengingatkan potensi volatilitas akibat melonggarnya pasokan.
Goldman Sachs juga menilai stok perak yang menipis di London berpotensi memicu pergerakan harga ekstrem, meski reli tersebut berisiko berbalik arah.
sumber : investor.id
