Harga Emas Turun, Seiring Pelaku Pasar Nantikan Perkembangan Terbaru di Timur Tengah
Harga emas dunia turun pada perdagangan Senin (6/4/2026), seiring pelaku pasar menanti perkembangan terbaru konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjelang tenggat pembukaan kembali Selat Hormuz.
Harga emas spot ditutup turun 0,55% dan ditutup di level US$ 4.650,46 per ons.
Dikutip dari Reuters, ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan emas. Iran menyatakan menginginkan akhir permanen dari konflik dengan AS dan Israel, serta menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz di bawah kesepakatan gencatan senjata sementara.
Saat ini, kedua pihak masih mempertimbangkan kerangka penyelesaian untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima pekan.
Di sisi lain, Presiden DAS onald Trump melontarkan ancaman keras kepada Teheran. Ia menyatakan akan ‘menghujani neraka’ jika tidak tercapai kesepakatan hingga batas waktu yang ditetapkan pada Selasa (7/4/2026).
Kepala strategi komoditas global TD Securities Bart Melek menilai, perhatian pasar saat ini tertuju pada konflik geopolitik dan arah suku bunga. Menurut dia, jika konflik berkepanjangan, harga minyak berpotensi terus naik akibat pengetatan pasokan, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi.
“Kondisi tersebut membuat bank sentral, khususnya The Fed, memiliki ruang yang semakin terbatas untuk melonggarkan kebijakan moneter. Bahkan, wacana kenaikan suku bunga bisa kembali mencuat jika harga energi terus meningkat, dan ini menjadi sentimen negatif bagi emas,” jelasnya.
Sementara itu, harga minyak tercatat bergerak naik dalam perdagangan yang fluktuatif pada hari yang sama, dan telah melonjak signifikan sejak konflik memanas.
Secara umum, emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi. Namun, karena tidak memberikan imbal hasil bunga, daya tarik emas cenderung menurun ketika suku bunga berada pada level tinggi.
Selain perkembangan konflik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda penting pekan ini, di antaranya risalah rapat kebijakan moneter The Fed bulan Maret yang akan dirilis Rabu (8/4/2026), data inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Kamis (9/4/2026), serta data Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat (10/4/2026).
The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga pada bulan lalu. Mayoritas pelaku pasar kini menilai kecil kemungkinan bank sentral AS tersebut akan memangkas suku bunga sepanjang tahun ini.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan. Harga perak turun 0,02% dan ditutup di US$ 72,77 per ons.
sumber : investor.id
