Harga Emas Tertekan Jelang Data Inflasi AS, Strong Dolar dan Prospek Suku Bunga The Fed

Harga emas (XAUUSD) melemah pada Kamis, 25 Juni 2026, karena investor kembali mengurangi eksposur pada aset safe haven seiring menguatnya dolar AS dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpotensi menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. XAUUSD diperdagangkan turun 0,55% ke level $ 3.982,15 per troy ounce saat berita ini ditulis Pukul 14.10 WIB. Logam mulia tersebut bahkan sempat bertahan di dekat level terendah dalam lebih dari tujuh bulan terakhir setelah gagal mempertahankan area psikologis $4.000 per troy ounce.

Faktor utama yang menekan harga emas hari ini adalah penguatan dolar AS. Ketika dolar menguat, harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional, sehingga permintaan cenderung menurun. Di saat yang sama, pelaku pasar semakin meyakini bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama karena tekanan inflasi di Amerika Serikat masih relatif tinggi.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh antisipasi terhadap rilis data ekonomi penting AS, terutama Core PCE Price Index yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve, serta data Final GDP kuartalan. Konsensus pasar memperkirakan inflasi inti masih menunjukkan tekanan yang cukup kuat. Jika data tersebut dirilis lebih tinggi dari ekspektasi, peluang kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed akan semakin besar, yang pada akhirnya berpotensi menekan emas lebih lanjut karena emas tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Selain itu, sejumlah lembaga keuangan global mulai merevisi proyeksi harga emas mereka. Beberapa analis menilai prospek suku bunga tinggi yang lebih lama (higher for longer) dapat membatasi kenaikan harga emas dalam jangka menengah. Bahkan beberapa bank investasi besar telah memangkas target harga emas akhir tahun setelah meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish dari Federal Reserve.

Walaupun tekanan jangka pendek masih dominan, permintaan emas dari bank sentral global dan investor institusi dinilai tetap menjadi faktor pendukung dalam jangka panjang. Namun untuk saat ini, fokus pasar sepenuhnya tertuju pada arah kebijakan The Fed dan data inflasi AS. Selama dolar AS tetap kuat dan ekspektasi kenaikan suku bunga bertahan, ruang pemulihan emas kemungkinan masih terbatas.

Menurut Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank, tekanan terhadap emas saat ini terutama berasal dari kombinasi penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi. Hansen menilai bahwa pasar emas sedang berada dalam fase penyesuaian setelah reli besar sebelumnya, sementara investor menunggu kepastian mengenai arah inflasi dan kebijakan Federal Reserve. Selama data ekonomi AS tetap solid dan inflasi belum menunjukkan perlambatan yang meyakinkan, emas berpotensi menghadapi tekanan jual lanjutan dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, Pelemahan harga emas (XAUUSD) dipicu oleh penguatan dolar AS, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta sikap hati-hati investor menjelang rilis data Core PCE dan Final GDP AS. Sentimen tersebut membuat minat terhadap aset safe haven berkurang sehingga mendorong harga emas bergerak lebih rendah.


sumber : reuters