Harga Emas Terpukul, Seiring Meningkatnya Kekhawatiran Inflasi dan Eskalasi Geopolitik

Harga emas global terpukul hebat pada Kamis (19/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Aksi jual besar-besaran (sell-off) pun tak terhindarkan, mendorong logam mulia ini jatuh signifikan.

Harga emas tercatat anjlok 3,49% dan ditutup di level US$ 4.650,36 per ons.

Dikutip dari CNBC internasional, penurunan tajam ini terjadi di tengah meningkatnya sentimen ‘risk-off’ di pasar global, di mana investor cenderung melepas aset-aset berisiko maupun safe haven untuk mencari likuiditas. Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran inflasi yang kian menguat akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berlanjut memasuki pekan ketiga.

Konflik tersebut memicu lonjakan harga energi, terutama setelah fasilitas minyak dan gas di Iran serta Qatar dilaporkan terkena serangan. Lonjakan harga energi ini berpotensi memperparah tekanan inflasi global.

Sejumlah bank sentral pun mulai bersikap lebih hati-hati. The Fed memutuskan menahan suku bunga dan menyoroti ketidakpastian dampak konflik terhadap ekonomi. Langkah serupa juga diambil oleh Bank of Japan, yang melihat risiko inflasi kini cenderung meningkat.

Tekanan pada emas juga diperparah oleh penguatan dolar AS. Secara historis, kenaikan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan cenderung melemah.

Selain itu, para analis menilai aksi jual ini mencerminkan perubahan strategi investor. Setelah menikmati reli panjang, emas kini mulai dilepas untuk mendanai pembelian aset lain yang dianggap lebih menarik dalam kondisi pasar saat ini.

Direktur Investasi Kingswood Group Paul Surguy menilai, emas sebelumnya mendapat dorongan kuat dalam waktu lama. Namun kini, investor mulai melakukan reposisi portofolio. “Pasar global tengah mengalami aksi jual luas. Investor mencari aset yang paling cepat dijual, termasuk emas,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Chief Investment Officer Netwealth Iain Barnes. Ia mengatakan volatilitas emas meningkat karena semakin banyak investor finansial yang terlibat dalam perdagangan logam mulia ini. “Investor kini cenderung mengurangi risiko secara keseluruhan, terutama dana dengan leverage tinggi yang menghadapi biaya pinjaman lebih mahal,” jelasnya.

Di sisi lain, faktor logistik juga turut membebani harga emas. Penutupan jalur udara dan pelayaran akibat konflik membuat distribusi emas fisik menjadi lebih mahal, bahkan berpotensi terganggu.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak turun dan ditutup di level US$ 72,77 per ons.

Meski demikian, baik emas maupun perak sebelumnya mencatatkan reli besar sepanjang 2025, masing-masing melonjak 66% dan 135%. Namun, memasuki 2026, pergerakan keduanya menjadi jauh lebih volatil, seiring dinamika pasar global yang semakin kompleks.


sumber : investor.id