Harga Emas Tergelincir Usai Cetak Rekor Tertinggi

Harga emas terkoreksi pada Selasa (1/4/2025). Hal itu akibat aksi ambil untung usai mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) ke-20 sepanjang tahun ini.
Dikutip dari CNBC internasional, investor beralih ke aset safe haven menjelang pengumuman Presiden Donald Trump terkait tarif besar-besaran bagi negara yang memiliki ketidakseimbangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).
Harga emas spot turun 0,3% dan ditutup di US$ 3.114,08 per ons setelah sempat mencetak rekor tertinggi ke-20 sepanjang 2025 di level US$ 3.148,8 pada awal sesi.
“Tidak mengejutkan jika terjadi aksi ambil untung, terutama karena pasar sudah dalam kondisi jenuh beli. Namun, fundamental pasar emas masih kuat. Ini adalah badai sempurna bagi emas,” ujar Wakil Presiden dan Analis Senior Logam di Zaner Metals Peter Grant.
Kini, pasar menanti detail kebijakan tarif Trump yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (2/4/2025). Menurut laporan Washington Post, para penasehat Gedung Putih telah menyusun rencana tarif sekitar 20% untuk sebagian besar impor AS.
Sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, emas mencatatkan kinerja kuartalan terkuat sejak 1986 dan berhasil menembus level US$ 3.100 per ons, menjadikannya salah satu kenaikan paling signifikan dalam sejarah logam mulia ini.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi kemungkinan resesi AS menjadi 35% dari sebelumnya 20% pada Senin (31/3/2025) dan memperkirakan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed. Lingkungan suku bunga rendah cenderung mendukung kenaikan harga emas.
Manajer Portofolio Senior di Sprott Asset Management Ryan McIntyre memprediksi, harga emas masih akan terus naik. “Hal itu didorong oleh peningkatan kepemilikan emas di ETF berbasis fisik dan pembelian agresif oleh bank sentral,” kata McIntyre.
Secara teknikal, Relative Strength Index (RSI) emas berada di atas level 70, menandakan kondisi jenuh beli.
Sementara itu, jumlah lowongan pekerjaan di AS turun menjadi 7,568 juta pada akhir Februari, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 7,616 juta, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Selasa. Investor kini menantikan laporan nonfarm payrolls pada Jumat (4/4/2025) sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.
Di pasar logam lainnya, harga perak anjlok 1,5% menjadi US$ 33,55 per ons dan platinum melemah 0,8% ke US$ 984,64 per ons. Sedangkan paladium malah naik tipis 0,2% ke US$ 984,99 per ons.
sumber : investor.id