Harga Emas Tembus $ 3.000, Akankah Berlanjut ?

Harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) dengan menembus level psikologis US$ 3.000 per ons pada Jumat (14/3/2025). Lonjakan ini terjadi akibat ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh perang tarif yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Pemecahan rekor tertinggi ini masih belum berakhir, bahkan banyak analis meyakini bahwa tren bullish masih berlanjut. Bahkan, Goldman Sachs memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 3.300 per ons pada akhir 2025.
Dikutip dari Reuters, harga emas spot sempat mencapai rekor tertinggi US$ 3.004,79 per ons sebelum turun tipis 0,1% dan ditutup di US$ 2.983,86 per ons, akibat aksi ambil untung.
Lonjakan harga emas ini didorong oleh para investor yang mencari aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi. “Investor yang tertekan akibat gejolak pasar saham akibat kebijakan Trump beralih ke emas sebagai aset perlindungan utama,” kata pedagang logam independen Tai Wong.
Secara historis, emas dianggap sebagai aset lindung nilai selama periode ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Sejak awal tahun, harga emas telah naik hampir 14%, sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran terhadap dampak tarif yang diberlakukan Trump dan aksi jual besar-besaran di pasar saham.
“Manajer investasi aset riil, khususnya di Barat, membutuhkan kombinasi pasar saham yang melemah dan ketakutan akan perlambatan ekonomi untuk kembali ke emas, dan itu sedang terjadi sekarang,” ujar Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank Ole Hansen.
Selain ketidakpastian ekonomi, permintaan bank sentral juga mendorong kenaikan harga emas. China, sebagai pembeli utama, telah menambah cadangan emasnya selama empat bulan berturut-turut hingga Februari.
“Bank sentral terus melakukan akuisisi emas dalam jumlah rekor untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS yang semakin bergejolak,” ujar CEO GoldCore David Russell.
Harapan akan pelonggaran kebijakan moneter The Fed turut memberikan dorongan bagi emas. Para pedagang memperkirakan pemangkasan suku bunga akan dimulai kembali pada Juni, yang dapat meningkatkan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
“Ada banyak faktor yang dapat menjaga permintaan investasi emas tetap kuat, termasuk ketegangan geopolitik dan geoekonomi, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, potensi penurunan suku bunga, serta ketidakpastian pasar,” kata Kepala Riset Global di World Gold Council.
Goldman Sachs dalam laporannya menyebut bahwa ada potensi kenaikan lebih lanjut pada skenario dasarnya sebesar US$ 3.100 per ons untuk akhir 2025, dengan rentang perkiraan antara US$ 3.100 hingga US$ 3.300 per ons. Ketidakpastian kebijakan AS dinilai akan terus mendorong permintaan investor terhadap emas.
“Kami yakin bahwa pembelian emas oleh bank sentral akan tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum pembekuan cadangan bank sentral Rusia pada 2022, bahkan jika terjadi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina,” tambah Goldman Sachs.
Sementara harga emas melonjak, harga perak tercatat stagnan di US$ 33,8 per ons. Platinum naik tipis 0,1% menjadi US$ 995,2 per ons, sementara paladium menguat 0,6% ke level US$ 963,76 per ons.
sumber : investor.id