Harga Emas Tancap Gas karena Meningkatnya Kegelisahan Pasar Global

Harga emas tancap gas pada Jumat (9/1/2026), mencerminkan meningkatnya kegelisahan pasar global setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) kembali meleset dari ekspektasi di tengah memanasnya ketidakpastian geopolitik.

Harga emas melesat 0,71% dan ditutup di level US$ 4.507,57 per ons dan diproyeksikan mencatat kenaikan mingguan sebesar 4% setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 4.549,56 per ons pada 26 Desember 2025 lalu.

Diikutip dari CNBC internasional, data menunjukkan nonfarm payrolls AS pada Desember hanya bertambah 50.000 pekerjaan, lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 66.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran turun menjadi 4,4%, lebih rendah dari perkiraan 4,5%.

Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities Bart Melek mengatakan, data ketenagakerjaan menunjukkan lingkungan penciptaan lapangan kerja yang lemah. Potensi meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak yang sedikit lebih tinggi dan bersifat inflasioner, ketidakpastian, serta kebijakan The Fed yang lebih longgar.

“Semua faktor ini menciptakan kondisi yang sangat mendukung untuk logam mulia seperti emas,” ujarnya.

Pasar kini semakin memperhitungkan kemungkinan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang tahun ini, yang secara historis menjadi faktor positif bagi harga emas karena biaya memegang aset non-imbal hasil menjadi lebih rendah.

Sementara itu, ketegangan geopolitik global juga turut memicu minat terhadap aset safe-haven, termasuk meningkatnya kerusuhan di Iran, berlanjutnya perang Rusia di Ukraina, penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS, serta sinyal baru Washington terkait pengambilalihan Greenland.

Metals Focus memprediksi harga emas mencetak rekor baru di atas US$ 5.000 per ons pada 2026, dengan alasan tren de-dolarisasi dan risiko geopolitik.

Investor juga mencermati secara ketat potensi putusan Mahkamah Agung AS terkait kewenangan Presiden Donald Trump berdasarkan International Emergency Economic Powers Act untuk memberlakukan tarif tanpa persetujuan Kongres.

Permintaan emas ritel di India masih lesu akibat harga yang tinggi, sementara premi emas di China justru melebar.

Harga perak spot naik 3,79% dan ditutup di US$ 79,8 per ons dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan sekitar 8,8%.


sumber : investor.id