Harga Emas Rontok, Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Satu Tahun
Harga emas dunia rontok pada perdagangan Selasa (23/6/2026), seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Sentimen tersebut menekan daya tarik logam mulia di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Harga emas spot ditutup ambles 1,94% menjadi $ 4.110,11 per troy ounce.
Dikutip dari Reuters, penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang membebani pergerakan emas. Mata uang Negeri Paman Sam itu naik ke posisi tertinggi dalam lebih dari satu tahun, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Senior Market Strategist StoneX Bob Haberkorn mengatakan fokus pasar saat ini lebih tertuju pada arah kebijakan moneter AS dibandingkan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
“Untuk saat ini, emas dan perak tidak terlalu memperhatikan situasi di Timur Tengah. Investor lebih fokus pada pesan yang disampaikan The Fed pekan lalu,” ujarnya.
Pelaku pasar semakin yakin The Fed akan kembali menaikkan suku bunga setelah sinyal hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh yang menegaskan komitmennya menekan inflasi. Kondisi tersebut mendorong investor meningkatkan spekulasi terhadap kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Data CME FedWatch menunjukkan, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember kini mencapai sekitar 86%, melonjak dari 61% sebelum pertemuan The Fed pekan lalu.
Meski kerap dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, emas cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik sebenarnya memberikan sedikit dukungan bagi pasar. AS memberikan penangguhan sanksi terhadap Iran selama 60 hari setelah berlangsungnya pembicaraan awal dalam upaya perdamaian yang baru dimulai. Namun, konflik di Lebanon masih berlanjut.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut, pembicaraan dengan pejabat Iran di Swiss telah menciptakan fondasi yang baik menuju kesepakatan damai permanen. Aktivitas pengiriman tanker melalui Selat Hormuz juga mulai meningkat setelah sebelumnya terganggu oleh ketegangan kawasan.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent turun lebih dari 1%, mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Pasar kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis (25/6/2026), yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed. Data tersebut diperkirakan akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot anjlok parah 5,4% dan ditutup di $ 61,52 per troy ounce.
sumber : investor.id
