Harga Emas Rebound, Pasar Menanti Rilis Inflasi AS
Harga emas (XAUUSD) berbalik menguat setelah sempat mengalami penurunan di bawah US$4.400 pada perdagangan hari Kamis, sekaligus menjauh dari level terendah satu minggu yang disentuh sehari sebelumnya. Meski demikian, pemulihan masih tertahan di bawah level pivot US$4.450 karena investor cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat. Data Producer Price Index (PPI) AS akan menjadi perhatian pasar hari ini, disusul Consumer Price Index (CPI) pada Jumat, yang berpotensi memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) dan selanjutnya menentukan pergerakan Dolar AS serta emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
CPI AS bulan Agustus menjadi katalis utama karena dapat memengaruhi keputusan suku bunga The Fed pada 16 September 2026. Strategis Brown Brothers Harriman menilai inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan hampir pasti akan memperkuat alasan kenaikan suku bunga pada September dan memberikan dukungan terhadap USD. Sebaliknya, CPI yang lebih rendah dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga, sehingga membuka peluang pelemahan USD dan memberikan ruang bagi emas untuk melanjutkan pemulihan. Saat ini, pasar memperkirakan sekitar 60% peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15–16 September, dengan ekspektasi tersebut meningkat setelah data NFP AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Tekanan terhadap emas juga datang dari meningkatnya risiko inflasi akibat harga energi. Harga minyak mentah sempat mencapai level tertinggi tiga bulan karena eskalasi ketegangan antara AS dan Iran mempertahankan premi risiko geopolitik. Iran dilaporkan menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah AS mengumumkan penenggelaman lima kapal tanker minyak Iran di Teluk Oman dan dekat Pulau Kharg. Risiko gangguan pasokan minyak Timur Tengah yang berkepanjangan dapat mendorong harga energi tetap tinggi, meningkatkan tekanan inflasi, dan pada akhirnya memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish dari bank-bank sentral utama.
Sentimen hawkish tersebut tidak hanya berasal dari The Fed. Pasar telah sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga 25 basis poin oleh European Central Bank (ECB) pada hari ini dan Bank of Japan (BoJ) pada pertemuan 17–18 September, sementara Reserve Bank of Australia (RBA) juga mempertimbangkan kenaikan suku bunga bulan ini. Di AS, imbal hasil Treasury masih berada pada level tinggi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali surat utang bertenor 10 hingga 20 tahun hingga US$6 miliar, meskipun angka tersebut berada di bawah ekspektasi pasar. Namun, penguatan Yen Jepang akibat ekspektasi kebijakan BoJ yang lebih hawkish menekan USD, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.
Secara keseluruhan, bias XAUUSD masih netral dengan kecenderungan bearish dalam jangka pendek selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas US$4.450. Rebound dari bawah US$4.400 menunjukkan adanya minat beli, tetapi investor masih menunggu konfirmasi dari PPI dan terutama CPI AS sebelum menentukan arah berikutnya. CPI yang lebih panas berpotensi memperkuat USD dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sehingga dapat kembali menekan emas. Sebaliknya, CPI yang lebih lunak berpotensi melemahkan USD dan membuka ruang bagi XAUUSD untuk menembus US$4.450 serta melanjutkan pemulihan.
sumber : fxstreet
