Harga Emas Rebound, Bangkit dari Koreksi di Tengah Sinyal Damai AS-Iran

Harga Emas (XAUUSD) diperdagangkan menguat pada hari Senin, 22 Juni 2026, dengan harga mencapai level $4.200 per troy ounce, naik sekitar 1,27% dari hari sebelumnya saat berita ini ditulis Pukul 13.45 WIB. Kenaikan ini terjadi setelah emas mengalami koreksi signifikan selama beberapa minggu terakhir, di mana harga turun lebih dari 8% dalam sebulan terakhir meskipun masih mencatat kenaikan 24,6% secara year-on-year. Penguatan hari ini menandai upaya pemulihan setelah emas sempat menyentuh level terendah tahunan di kisaran $4.170 pada awal bulan ini.

Faktor utama yang mendorong penguatan harga emas pada hari ini adalah perkembangan positif dalam negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang sedang berlangsung di Swiss. Laporan menyebutkan bahwa kedua negara telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan damai final dalam waktu 60 hari ke depan. Perkembangan ini membantu meredakan kekhawatiran pasar yang sebelumnya meningkat setelah kedua belah pihak saling bertukar ancaman terkait konflik di Lebanon, dengan Tehran mengklaim telah menutup kembali Selat Hormuz. Meskipun demikian, jutaan barel minyak terus melewati jalur perairan tersebut selama akhir pekan, sementara produsen Teluk Persia bersiap untuk meningkatkan output mereka. Penurunan harga minyak lebih lanjut turut membantu meredakan tekanan inflasi, yang secara tidak langsung memberikan dukungan bagi emas sebagai aset lindung nilai.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis data indeks harga PCE (Personal Consumption Expenditures) AS minggu ini, yang merupakan ukuran inflasi favorit Federal Reserve. Pekan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah namun mempertahankan sikap yang lebih hawkish, dengan sembilan dari 19 pembuat kebijakan memproyeksikan setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini, dan pasar semakin bertaruh pada kenaikan sedini September. Sikap hawkish Fed ini seharusnya menjadi tekanan bagi emas, namun logam mulia ini menunjukkan ketahanan yang mengesankan, menunjukkan bahwa permintaan struktural tetap kuat meskipun ada ketidakpastian kebijakan moneter.

Dari perspektif analis senior internasional, Greg Shearer, Head of Base & Precious Metals di J.P. Morgan Global Research, memberikan pandangannya tentang kondisi pasar emas saat ini. Beliau menyatakan: “Gold is stuck in a bit of a technical no-man’s land, trudging above the 200-day moving average around $4,340/oz and capped for now below the 50-day moving average at $4,730/oz. Amid this sideways plod, and with growing worries that the Fed might have to respond to energy-driven inflation with hikes, gold is on the back burner for most investors at the moment”. Meskipun demikian, Shearer menekankan bahwa tema-tema struktural yang mendorong permintaan emas—seperti risiko inflasi yang lebih tinggi, erosi daya beli, kekhawatiran fiskal AS, fragmentasi geopolitik, dan ketidakpastian kebijakan—tetap intact dan akan kembali mendorong harga begitu ada kejelasan mengenai resolusi konflik Iran.

J.P. Morgan Global Research mempertahankan target harga emas rata-rata $6.000 per ounce pada kuartal keempat 2026, dengan kemungkinan mencapai $6.300 pada tahun 2027. Sementara itu, konsensus dari bank-bank besar lainnya juga menunjukkan optimisme yang serupa, dengan Goldman Sachs menargetkan $5.400, UBS di $5.900, Bank of America di $6.000, dan Wells Fargo di kisaran $6.100-6.300 untuk akhir tahun 2026. Semua institusi ini memandang koreksi saat ini sebagai peluang beli dalam pasar bull struktural yang masih intact, didorong oleh pembelian bank sentral yang diperkirakan mencapai 800 ton pada tahun 2026, arus masuk ETF yang kuat, dan tren de-dolarisasi yang terus berlanjut. Dengan demikian, meskipun menghadapi tantangan jangka pendek dari sikap hawkish Fed, prospek jangka panjang emas tetap sangat positif dengan potensi kenaikan 35-45% dari level saat ini menuju akhir tahun.


sumber : reuters