Harga Emas Naik, Namun Bersiap Catatkan Pelemahan Mingguan
Harga emas dunia naik pada perdagangan Jumat (20/2/2026), namun bersiap mencatat pelemahan secara mingguan seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi utama AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter bank sentral The Fed.
Harga emas hari ini terlihat naik 0,62% ke level US$ 5.027,42 per ons saat berita ditulis Pukul 13.50 WIB, meskipun secara kumulatif masih turun sekitar 1% sepanjang pekan ini.
Managing Director GoldSilver Central Brian Lan mengatakan, logam mulia saat ini cenderung bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah tipis, terutama karena dolar AS mulai menguat dari posisi terendahnya.
“Logam mulia sedang berkonsolidasi dengan bias sedikit menurun. Penguatan dolar memberikan tekanan pada harga emas,” ujarnya dikutip dari Reuters.
Meski demikian, Lan menilai minat beli emas masih cukup kuat, terutama saat harga turun. Hal ini terlihat dari stabilnya harga emas meskipun pasar China, salah satu konsumen terbesar emas dunia, sedang libur Tahun Baru Imlek.
Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Mata uang Negeri Paman Sam itu bersiap mencatat kinerja mingguan terbaik sejak Oktober, didukung oleh data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan, prospek kebijakan moneter yang tetap ketat, serta ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Investor kini menunggu data inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE), indikator inflasi favorit The Fed, yang akan menjadi acuan penting dalam menentukan arah suku bunga ke depan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama pada tahun ini berpotensi terjadi pada Juni 2026. Secara umum, emas cenderung menguat dalam lingkungan suku bunga rendah karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Bank investasi global Goldman Sachs memperkirakan tren jangka menengah harga emas masih positif. Dalam skenario dasar, pembelian emas oleh bank sentral diproyeksikan kembali meningkat, sementara investor swasta akan menambah kepemilikan emas seiring pemangkasan suku bunga.
Goldman Sachs bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$ 5.400 per ons pada akhir 2026, meskipun dengan volatilitas yang masih tinggi.
Selain emas, harga perak spot naik 0,51% menjadi US$ 78,91 per ons.
sumber : investor.id
