Harga Emas Naik, Kembali di Atas Level $ 4.000 per troy ounce

Harga emas dunia kembali naik ke level $ 4.000 per troy ounce pada perdagangan Jumat (17/7/2026), setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari dua pekan.

Namun, emas masih berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak awal Juni seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Harga emas spot ditutup melesat 0,98% menjadi $ 4.015,4 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 30 Juni 2026. Meski rebound, harga emas masih melemah sekitar 2,52% sepanjang pekan ini.

Dikutip dari Reuters, penguatan dolar AS selama dua hari berturut-turut turut menekan daya tarik emas karena membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Presiden World Markets EverBank Chris Gaffney mengatakan pelemahan emas dipicu kombinasi penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global yang mendorong kenaikan suku bunga di berbagai negara.

“Faktor utama di balik aksi jual emas adalah penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global yang mendorong kenaikan suku bunga,” ujar Gaffney.

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah AS memperluas serangan ke Iran dengan menargetkan jembatan dan sebuah bandara. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak. Minyak mentah Brent melonjak sekitar 16% sepanjang pekan, meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan kembali memanas.

Sejak perang yang didukung AS terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, harga emas telah merosot sekitar 25%. Pasar menilai lonjakan harga energi akibat perang berpotensi membuat bank sentral, khususnya The Fed, mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.

Gaffney menilai data ekonomi terbaru memang sedikit menurunkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya. Namun, kenaikan suku bunga global dan lonjakan harga minyak berpotensi mendorong The Fed mengambil sikap yang lebih hawkish.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September mencapai sekitar 58%.

Sementara itu, Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson pada Kamis menyatakan terbuka untuk kembali menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Goldman Sachs menilai prospek jangka panjang emas masih didukung meningkatnya permintaan investasi. Menurut bank investasi tersebut, porsi kepemilikan emas dalam portofolio investor swasta masih relatif rendah, sehingga ketegangan geopolitik dapat mendorong diversifikasi investasi ke emas di luar pembelian oleh bank sentral.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,19% dan ditutup di $ 56,14 per troy ounce.


sumber : investor.id