Harga Emas Naik Gila-gilaan, Tembus Level Tertinggi Sepekan
Harga emas naik gila-gilaan hingga menembus level tertinggi dalam sepekan pada perdagangan Senin (5/1/2026). Penguatan itu seiring meningkatnya permintaan aset safe haven setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer ke Venezuela.
Harga emas spot tercatat naik 2,57% dan ditutup di level US$ 4.448,85 per ons, setelah sempat menyentuh posisi tertinggi sejak 29 Desember 2025 di awal perdagangan. Harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 4.549,56 per ons pada 26 Desember 2025 lalu.
Analis menyebut eskalasi geopolitik terbaru kembali menguatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Alexander Zumpfe, trader logam mulia di Heraeus Metals Germany, mengatakan situasi Venezuela menjadi katalis tambahan di tengah ketidakpastian global yang sudah ada.
“Situasi di Venezuela jelas mengaktifkan kembali permintaan safe haven. Ini terjadi di tengah kekhawatiran yang sudah berlangsung terkait geopolitik, pasokan energi, dan arah kebijakan moneter,” ujar Zumpfe dikutip dari CNBC internasional.
Pada Sabtu (3/1/2026), AS melancarkan serangan langsung ke Venezuela dan menggulingkan Presiden Nicolas Maduro, yang menjadi intervensi paling terbuka Washington di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan jika Caracas menolak membuka industri minyaknya dan gagal menghentikan perdagangan narkoba. Trump juga menyinggung potensi tindakan terhadap Kolombia dan Meksiko terkait aliran narkotika ilegal.
Sepanjang tahun lalu, harga emas mencatatkan kenaikan tajam hingga 64%, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik serta siklus pelonggaran suku bunga The Fed. Ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut, ditambah pembelian bank sentral dan arus masuk ETF, turut memperkuat reli harga emas.
Emas dikenal sebagai aset penyimpan nilai yang cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah, mengingat logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
“Pergerakan menuju rekor tertinggi baru berpeluang terjadi jika ketegangan geopolitik semakin meluas atau jika data ekonomi AS memperkuat ekspektasi bahwa The Fed harus memangkas suku bunga lebih agresif dari perkiraan pasar,” kata Zumpfe.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data nonfarm payrolls AS untuk Desember yang dijadwalkan pada Jumat (9/1/2026), dengan ekspektasi setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang tahun ini.
Selain emas, harga perak juga melonjak tajam sebesar 4,3% dan ditutup di level US$ 75,56 per ons. Logam ini sebelumnya mencatatkan lonjakan fantastis hingga 147% sepanjang 2025, didorong statusnya sebagai mineral kritis AS serta defisit pasokan struktural di tengah permintaan yang terus meningkat.
sumber : investor.id
