Harga Emas Naik, Didorong Melemahnya Data Pertumbuhan Ekonomi AS
Harga emas dunia naik lebih dari 2% pada perdagangan Jumat (20/2/2026), didorong oleh data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan, serta langkah baru Presiden AS Donald Trump terkait tarif global.
Harga emas spot melonjak 2,02% dan ditutup di US$ 5.097,07 per ons.
Dikutip dari Reuters, kenaikan harga emas terjadi setelah data menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS melambat tajam. Produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal IV hanya tumbuh 1,4% secara tahunan (annualized), jauh di bawah proyeksi ekonom sebesar 2,8%.
Perlambatan ini dipicu oleh penutupan sebagian aktivitas pemerintahan (government shutdown) serta melemahnya belanja konsumen.
Di sisi lain, indikator inflasi pilihan bank sentral AS, indeks Personal Consumption Expenditure (PCE), naik 0,4% pada Desember, lebih tinggi dari ekspektasi 0,3%. Data ini menunjukkan tekanan harga masih bertahan di tengah perlambatan ekonomi.
Senior Market Strategist RJO Futures Bob Haberkorn menilai kombinasi inflasi yang masih ada dan pertumbuhan ekonomi yang melemah menciptakan ketidakpastian baru.
“Inflasi masih terlihat di pasar. Namun, dengan PDB yang lebih rendah, ekonomi belum menunjukkan titik balik yang jelas. Masih banyak ketidakpastian, dan kondisi ini mendukung harga emas,” ujarnya.
Selain faktor data ekonomi, pasar juga mencermati putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang menyatakan tarif global luas yang sebelumnya diberlakukan Trump melanggar hukum. Kebijakan tersebut dinilai melampaui kewenangan presiden berdasarkan International Emergency Economic Powers Act.
Merespons putusan tersebut, Trump menyatakan akan mengenakan tarif global sebesar 10% selama 150 hari untuk menggantikan sebagian bea darurat yang dibatalkan pengadilan.
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan langkah tersebut berpotensi menjaga volatilitas pasar. “Sulit membayangkan presiden mundur begitu saja. Ia kemungkinan akan mencoba memberlakukan kembali tarif melalui dasar hukum lain, yang bisa meningkatkan gejolak pasar,” katanya.
Meski demikian, Wong menilai ketidakpastian jangka menengah tidak akan menghalangi pelaku pasar yang optimistis terhadap emas.
Di pasar keuangan, indeks utama Wall Street justru melonjak setelah putusan Mahkamah Agung diumumkan, mencerminkan respons beragam investor terhadap dinamika kebijakan perdagangan dan ekonomi AS.
Pelaku pasar saat ini masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali masing-masing sebesar 25 basis poin tahun ini, dengan pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada Juni 2026.
Sebagai aset safe haven, emas cenderung diminati saat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi meningkat. Logam mulia ini juga biasanya berkinerja baik ketika suku bunga berada di level rendah.
Sementara itu, harga perak spot melonjak 7,66% dan ditutup di US$ 84,51 per ons.
sumber : investor.id
