Harga Emas Menguat Tajam, Antisipasi Meeting The Fed
Harga emas dunia (XAUUSD) tercatat mengalami penguatan signifikan pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, dengan harga berada di kisaran $4.304,59 per troy ounce saat berita ini ditulis Pukul 13.35 WIB, naik sekitar 2,24% dari hari perdagangan sebelumnya. Penguatan ini terjadi setelah emas mengalami tekanan jual selama beberapa minggu sebelumnya, di mana harga sempat turun hampir menyentuh level psikologis $4.000. Kenaikan ini menandai pemulihan teknis yang penting setelah emas berada di bawah tekanan selama bulan Mei dan awal Juni 2026.
Salah satu faktor fundamental utama yang mendorong penguatan emas pada hari ini adalah antisipasi pasar terhadap pertemuan Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan pada tanggal 16-17 Juni 2026. Pasar saat ini menunjukkan probabilitas 53,5% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan Juni, meningkat tajam dari 42,7% pada hari Jumat sebelumnya. Meskipun ekspektasi pemangkasan suku bunga pada tahun 2026 kini dianggap “pada dasarnya tidak mungkin terjadi” menurut Yardeni Research, ketidakpastian kebijakan moneter tetap menjadi katalis positif bagi emas sebagai aset safe haven. Goldman Sachs memperkirakan masih ada dua pemangkasan suku bunga lagi dari The Fed, yang akan meninggalkan suku bunga di level 3-3,25%. Ekspektasi ini menciptakan volatilitas yang mendorong investor untuk berlindung ke emas menjelang pengumuman kebijakan moneter.
Faktor geopolitik juga memainkan peran krusial dalam mendorong permintaan safe haven terhadap emas. Ketegangan di Timur Tengah terus memanas dengan Israel yang meningkatkan tekanan terhadap Hamas di Gaza, sementara Iran terus menargetkan kawasan Teluk di tengah macetnya kesepakatan dengan Amerika Serikat. Natixis, bank asal Prancis, memperingatkan bahwa krisis Timur Tengah dapat memicu reli harga emas hingga 15%. Sebelumnya pada bulan Maret 2026, harga emas sempat melonjak ke rekor tertinggi di $5.417 per ounce setelah eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah. Meskipun saat ini harga telah terkoreksi dari level tersebut, risiko geopolitik tetap menjadi penopang kuat bagi harga emas, terutama dengan ketidakpastian mengenai apakah kesepakatan dengan Iran dapat tercapai atau tindakan militer akan terjadi dalam waktu dekat.
Dari sisi permintaan struktural, pembelian bank sentral tetap menjadi pilar utama yang menopang harga emas di tahun 2026. World Gold Council mencatat bahwa bank sentral membeli 244 ton emas pada kuartal pertama 2026, dengan pembeli baru seperti Guatemala, Uganda, dan Kenya bergabung dalam daftar. Bank Sentral China telah memperpanjang streak pembelian emasnya menjadi 19 bulan berturut-turut hingga Mei 2026. J.P. Morgan memperkirakan sekitar 755 ton pembelian bank sentral untuk tahun ini, yang masih secara historis luar biasa. Goldman Sachs juga menyatakan bahwa pembelian bank sentral diperkirakan meningkat menjadi rata-rata 60 ton per bulan selama tahun 2026. Permintaan struktural ini menciptakan lantai harga yang kuat bagi emas, bahkan di tengah koreksi harga.
Peter Schiff, ekonom dan analis pasar senior internasional yang dikenal dengan pandangannya yang bullish terhadap emas, memberikan perspektifnya mengenai situasi saat ini. Schiff memprediksi bahwa meskipun saat ini emas mengalami koreksi dari level tertingginya, reli ini pada akhirnya akan membawa harga emas ke level $11.400 per troy ounce. Sebelumnya, Schiff telah meramalkan bahwa emas akan mencapai $6.000 pada tahun 2026, seiring dengan melemahnya Dollar Index yang diproyeksikan turun ke level 70 pada akhir tahun. Schiff menekankan bahwa emas tidak memiliki “batas atas” di tahun 2026, dan ketika emas baru-baru ini menembus threshold $5.000 per ounce, beberapa analis menyebutnya sebagai puncak, namun Schiff tidak setuju dengan pandangan tersebut. Ia berpendapat bahwa kombinasi antara ketidakpastian geopolitik, pembelian bank sentral yang agresif, dan potensi pelemahan dolar AS akan terus mendorong emas ke level yang lebih tinggi. Schiff juga membandingkan situasi saat ini dengan koreksi historis di mana emas pernah turun 32% sebelum akhirnya naik sekitar 178% dalam beberapa tahun berikutnya, yang memperkuat prediksinya tentang pemulihan signifikan.
Secara teknikal, emas memasuki bulan Juni di bawah tekanan dari suku bunga AS yang tinggi, dengan level support kunci di $4.200 dan resistance di $4.500. Namun, penguatan pada hari ini menunjukkan bahwa pembeli mulai masuk di level support, mengantisipasi potensi katalis dari pertemuan The Fed dan perkembangan geopolitik. Dengan momentum D1 yang sedang naik, kemungkinan tren naik akan berlanjut pada awal minggu ini. Investor disarankan untuk memantau dengan cermat pengumuman kebijakan The Fed pada 17 Juni 2026 serta perkembangan situasi di Timur Tengah, karena kedua faktor ini akan menjadi penentu arah pergerakan emas dalam jangka pendek hingga menengah.
sumber : reuters
