Harga Emas Menguat, Setelah Sempat Menyentuh Level Terendah Satu Bulan
Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa (5/5/2026), setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari satu bulan pada hari sebelumnya. Kenaikan ini terjadi seiring pelaku pasar mencermati rapuhnya gencatan senjata di Timur Tengah serta potensi dampaknya terhadap inflasi dan arah suku bunga global.
Harga emas spot ditutup naik 0,74% menjadi US$ 4.557,42 per ons, setelah pada Senin (4/5/2026) sempat menyentuh level terendah sejak 31 Maret 2026.
Dikutip dari Reuters, analis pasar dari American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan, kenaikan harga emas saat ini didorong oleh aksi beli saat harga murah (bargain hunting) setelah tekanan jual sebelumnya. Selain itu, pelemahan harga minyak turut memberikan dukungan bagi logam mulia tersebut.
“Pasar masih akan terus mencermati perkembangan geopolitik, namun fokus bisa mulai bergeser ke data ekonomi dalam waktu dekat,” ujar Wyckoff, sembari menambahkan, pelaku pasar membutuhkan katalis fundamental yang kuat agar tren bullish emas dapat kembali solid.
Ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian utama. Uni Emirat Arab dilaporkan mengalami serangan rudal dan drone dari Iran, di tengah pernyataan Washington bahwa gencatan senjata masih berlangsung meski rapuh, setelah sebelumnya terjadi baku tembak saat pasukan Amerika Serikat (AS) berupaya membuka kembali jalur Selat Hormuz.
Selat sempit tersebut merupakan jalur vital distribusi global untuk minyak, pupuk, dan berbagai komoditas penting lainnya. Sejak serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026, jalur ini praktis terganggu dan memicu lonjakan harga komoditas dunia.
Meski harga minyak sempat melemah pada Selasa, penurunannya terbatas. Harga energi yang tetap tinggi berpotensi mendorong inflasi, sekaligus menunda kebijakan pelonggaran moneter oleh bank sentral global.
Dalam kondisi tersebut, emas yang dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian biasanya mendapat dukungan. Namun, daya tariknya dapat berkurang ketika suku bunga tinggi, karena imbal hasil obligasi yang meningkat membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik.
Analis City Index Fawad Razaqzada menilai, permintaan aset safe haven masih ada, meski pengaruhnya mulai melemah karena emas kini juga diperlakukan sebagai aset sensitif terhadap risiko. “Kebutuhan lindung nilai terhadap inflasi, ditambah pembelian berkelanjutan oleh bank sentral, sejauh ini mampu menahan penurunan harga emas yang lebih dalam,” jelasnya.
Sementara itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan AS pada pekan ini. Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai apakah ekonomi AS masih cukup kuat sehingga The Fedmempertahankan suku bunga, atau justru membuka peluang pemangkasan jika pasar tenaga kerja mulai melemah.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot naik 0,4% dan ditutup menjadi US$ 72,78 per ons.
sumber : investor.id
