Harga Emas Menguat Empat Hari Beruntun, Didorong Pelemahan Dolar AS
Harga emas dunia terbang untuk hari keempat berturut-turut pada Rabu (1/4/2026), didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi meredanya konflik di Timur Tengah.
Harga emas spot melonjak 1,95% dan ditutup di level US$ 4.758,14 per ons dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 19 Maret 2026.
Pelemahan dolar AS selama dua hari berturut-turut menjadi salah satu katalis utama penguatan emas. Kondisi ini membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Senior Market Strategist RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan, harga emas berpotensi kembali menembus level psikologis US$ 5.000 per ons apabila arah konflik mengarah pada de-eskalasi. “Jika ketegangan mereda, ekspektasi penurunan suku bunga bisa kembali menguat, dan itu akan mendorong harga emas lebih tinggi,” ujar dia dikutip dari CNBC internasional.
Menurutnya, perhatian pasar kini tertuju pada Iran dan Selat Hormuz, terutama terkait bagaimana konflik berkembang dan arah penyelesaiannya ke depan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social menyatakan bahwa Presiden Iran telah meminta gencatan senjata. Namun, klaim tersebut dibantah oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang menyebutnya tidak benar dan tidak berdasar.
Trump dijadwalkan menyampaikan pidato kenegaraan pada Kamis (2/3/2026) dini hari waktu GMT ( 08.00 WIB pagi ), sementara laporan Axios menyebutkan diskusi terkait gencatan senjata sedang berlangsung.
Analis pasar IG Tony Sycamore menilai, berakhirnya konflik bisa menjadi pedang bermata dua bagi emas. Di satu sisi, tercapainya perdamaian akan mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Namun di sisi lain, penurunan harga minyak dan meredanya tekanan inflasi berpotensi menghidupkan kembali ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026, yang justru akan menopang harga emas.
Sebagai catatan, harga emas sempat merosot lebih dari 11% sepanjang Maret, seiring lonjakan harga energi akibat konflik Iran yang memicu kekhawatiran inflasi dan membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga.
Secara fundamental, emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai saat terjadi gejolak geopolitik dan inflasi tinggi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung menekan daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi data ekonomi, laporan ADP menunjukkan penyerapan tenaga kerja sektor swasta AS meningkat stabil pada Maret. Sementara itu, penjualan ritel pada Februari tercatat solid, meskipun lonjakan harga bensin berpotensi menekan konsumsi dalam beberapa bulan ke depan.
Adapun logam mulia lainnya bergerak beragam. Harga perak malah turun 0,16% dan ditutup di US$ 75,07 per ons
sumber : investor.id
