Harga Emas Menguat Dua Hari Beruntun, Didorong Permintaan Safe Haven

Harga emas dunia kembali menguat untuk dua hari berturut-turut pada perdagangan Senin (30/3/2026). Penguatan ini didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, harga emas terancam mencatatkan penurunan bulanan di sepanjang Maret 2026.

Harga emas naik 0,4% dan ditutup di US$ 4.510,98 per ons.

Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan, konflik yang masih memanas tanpa kejelasan penyelesaian menjadi pendorong utama kenaikan harga emas. “Perang masih berlangsung sengit dan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Kondisi ini mendorong permintaan safe haven, termasuk emas,” ujarnya dikutip dari Reuters.

Wyckoff menambahkan, dalam jangka pendek pasar akan mencermati perkembangan perang, pergerakan harga minyak mentah, imbal hasil obligasi, serta indeks dolar AS.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas energi dan ladang minyak Iran jika negara tersebut tidak membuka Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul setelah Teheran menilai proposal damai AS tidak realistis dan melancarkan serangan rudal ke Israel.

Meski menguat dalam dua hari terakhir, harga emas secara keseluruhan masih tertekan sepanjang Maret. Logam mulia ini tercatat telah turun lebih dari 14% sejak awal bulan, sehingga berpotensi mencatat kinerja bulanan terburuk sejak krisis keuangan global 2008.

Lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong pelaku pasar meninjau ulang ekspektasi suku bunga global.

Emas selama ini dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Namun, karena tidak memberikan imbal hasil, daya tariknya cenderung menurun ketika suku bunga tinggi.

Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan, bank sentral AS masih dapat bersikap ‘wait and see’ untuk melihat dampak konflik Iran terhadap ekonomi dan inflasi. The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% pada awal bulan ini.

Pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS pekan ini, termasuk lowongan kerja, penjualan ritel, laporan ketenagakerjaan ADP, serta data nonfarm payrolls.

Analis pasar City Index dan FOREX.com Fawad Razaqzada menyebut, level US$ 4.700 – 4.750 per ons sebagai area kunci untuk menguji potensi pemulihan harga emas dalam jangka pendek. “Jika emas gagal menembus level tersebut, maka kenaikan saat ini berisiko kembali melemah seperti yang terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Di sisi lain, harga perak stagnan ditutup di US$ 70,09 per ons.


sumber : investor.id