Harga Emas Menguat, Ditopang Data Ekonomi AS serta Dinamika Geopolitik Global
Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu (17/12/2025), ditopang respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat (AS) serta dinamika geopolitik global. Meski tren jangka menengah masih menunjukkan sinyal bullish, para analis mengingatkan potensi koreksi teknikal dalam jangka pendek.
Pada perdagangan hari ini, harga emas naik 0,44% ke level US$ 4.330,47 per ons saat berita ini ditulis Pukul 13.50 WIB. Meski demikian, posisi tersebut masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 4.381,18 per ons yang tercatat pada Oktober 2025 lalu.
Pergerakan emas saat ini mencerminkan tren bullish yang semakin solid, meskipun masih diwarnai volatilitas dan peluang koreksi jangka pendek.
Secara teknikal, struktur pergerakan harga masih menunjukkan dominasi buyer, sehingga peluang penguatan tetap terbuka selama harga mampu bertahan di atas area support kunci.
Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average saat ini masih mendukung kelanjutan tren bullish. Untuk perdagangan hari ini, ia memproyeksikan harga emas berpeluang menguji area resistance di sekitar US$ 4.348, apabila tekanan beli tetap berlanjut.
Namun, jika gagal melanjutkan kenaikan dan terjadi koreksi teknikal, support terdekat berada di area US$ 4.294.
Penguatan harga emas terjadi seiring pasar kembali mencerna laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS). Data tersebut menunjukkan hasil yang beragam. Jumlah angkatan kerja meningkat di atas ekspektasi, namun tingkat pengangguran justru naik ke level tertinggi sejak 2021.
Kondisi ini dinilai membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut, meski ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada Januari 2026 masih relatif rendah, di kisaran 25%.
Dari sisi data ekonomi lainnya, laporan Penjualan Ritel AS menunjukkan belanja konsumen stagnan secara bulanan pada Oktober. Hal ini mencerminkan tekanan dari kenaikan harga kebutuhan pokok serta barang impor akibat kebijakan tarif, yang berpotensi menahan laju konsumsi.
Sementara itu, lanjut Andy, meredanya tensi geopolitik turut membatasi penguatan emas sebagai aset lindung nilai. Perkembangan positif dalam pembicaraan damai Rusia–Ukraina yang dimediasi AS, serta pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai peluang kesepakatan damai, membuat permintaan terhadap safe haven cenderung tertahan.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi AS, Klaim Pengangguran Awal, serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE). Selama ketidakpastian kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global masih berlangsung, pergerakan harga emas berpotensi tetap volatil dengan kecenderungan menguat dalam jangka pendek.
sumber : investor.id
