Harga Emas Menguat, De-eskalasi Timur Tengah dan Ekspektasi Kebijakan The Fed Jadi Pemicunya

Harga emas (XAUUSD) pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, terpantau menguat signifikan dan diperdagangkan di kisaran $4.306,45 per troy ounce, naik sekitar 1,13% saat berita ini ditulis Pukul 13.50 WIB. Kenaikan ini menandai rebound ketiga secara berturut-turut setelah logam mulia ini sebelumnya tertekan hingga ke level terendah sejak musim gugur 2025. Penguatan ini terutama didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai yang dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada hari Jumat (19 Juni 2026). Kesepakatan ini diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan aliran minyak melalui Teluk Persia, yang secara langsung meredakan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga.

Faktor fundamental kedua yang mendukung penguatan emas adalah ekspektasi pasar terhadap keputusan kebijakan moneter Federal Reserve. Pasar secara luas memperkirakan bahwa The Fed akan menahan suku bunga acuan di level 3,75% pada pertemuan FOMC minggu ini, yang merupakan pertemuan pertama di bawah pimpinan Ketua baru Kevin Warsh. Meskipun inflasi AS masih berada di level 4,2% pada Mei 2026, pasar menilai bahwa The Fed akan mengambil pendekatan “wait and see” sebelum mempertimbangkan perubahan kebijakan lebih lanjut. Penahanan suku bunga ini mengurangi tekanan pada emas, karena biaya peluang memegang aset safe-haven tersebut menjadi lebih rendah dibandingkan dengan instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah AS yang yield-nya juga mulai menurun seiring meredanya tensi geopolitik.

Faktor ketiga yang menjadi penopang harga emas adalah berlanjutnya pembelian emas oleh bank sentral global. Survei terbaru dari World Gold Council (WGC) menunjukkan bahwa 45% dari 76 bank sentral yang disurvei berencana untuk meningkatkan pembelian emas mereka dalam 12 bulan ke depan, dengan hanya satu bank sentral yang berencana menjual. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah survei WGC. China, misalnya, terus menambah cadangan emasnya menjadi 2.313,46 ton pada Maret 2026, sementara Rusia mempertahankan cadangan sebesar 2.304,75 ton. Tren de-dolarisasi dan diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral negara-negara berkembang terus menjadi struktural bagi permintaan emas fisik global.

Dari sisi teknikal dan sentimen pasar, emas juga mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS yang terjadi setelah kesepakatan AS-Iran diumumkan. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa aliran minyak bebas dari Teluk Persia akan kembali setelah kesepakatan berlaku, yang menyebabkan harga minyak turun ke level terendah dua bulan. Penurunan harga minyak ini secara paradoks justru mendukung emas karena mengurangi tekanan inflasi dan menurunkan probabilitas The Fed akan menaikkan suku bunga secara agresif. Selain itu, arus keluar dari ETF emas yang sebelumnya terjadi mulai melambat, dan posisi spekulatif yang sebelumnya short mulai ditutup, menciptakan momentum beli teknis yang mendorong harga kembali ke atas level psikologis $4.300.

Marek Petkovich, Analis Senior dari InstaForex, dalam rilisnya pada 18 Juni 2026 menyatakan: “Emas telah berhasil menemukan pijakannya dan rebound dari level terendah sejak musim gugur 2025, berkat de-eskalasi konflik di Timur Tengah. Donald Trump pertama-tama membatalkan pengeboman terhadap Iran, dan kemudian mengumumkan kesepakatan dengan negara tersebut. Ini cukup bagi kuotasi XAUUSD untuk kembali di atas $4.300 per ounce. Sekarang logam mulia ini bersiap untuk ujian berupa pertemuan FOMC di bawah pimpinan Ketua baru Kevin Warsh.” Petkovich lebih lanjut memproyeksikan bahwa jika emas berhasil menembus level pivot $4.350, ini akan menjadi katalis untuk pembelian lebih lanjut dengan target kenaikan hingga $5.200 per ounce, didorong oleh pola Wolf Wave yang terbentuk di chart harian.

Sementara itu, institusi besar seperti J.P. Morgan Global Research tetap mempertahankan target jangka panjang yang sangat bullish, dengan proyeksi harga emas rata-rata $6.000 per ounce pada kuartal keempat 2026, naik menuju $6.300 per ounce pada akhir 2027. Goldman Sachs juga mempertahankan target $5.400 per ounce untuk akhir tahun 2026, dengan risiko yang condong ke sisi atas mengingat potensi pembelian dari sektor swasta dan berlanjutnya ketidakpastian geoekonomi global. Veteran analis Ed Yardeni bahkan memberikan prediksi yang lebih optimis, menyatakan bahwa emas bisa mencapai $6.000 pada akhir tahun ini didorong oleh geopolitik, pembelian bank sentral, dan opsi diversifikasi yang lemah di pasar lain.

Dengan demikian, penguatan emas pada 18 Juni 2026 ini mencerminkan kombinasi sempurna antara perbaikan sentimen geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter yang dovish dari The Fed, dan dukungan struktural dari pembelian bank sentral global. Meskipun dalam sebulan terakhir harga emas masih terkoreksi sekitar 3,76% dari level tertingginya, logam mulia ini masih mencatatkan kenaikan tahunan yang impresif sebesar 28,20%, menunjukkan bahwa tren bull market jangka panjang masih sangat intact.


sumber : reuters